Jakarta, iNBrita.com — Publik ramai membicarakan isu influenza A H3N2 varian subclade K belakangan ini. Banyak orang menyebutnya “superflu” karena virus tersebut menyebarkan infeksi lebih cepat dan menyebabkan keluhan yang lebih berat dibandingkan flu musiman biasa.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa subclade K merupakan turunan dari virus influenza A H3N2. Dokter spesialis anak konsultan respirologi IDAI menyebut kecepatan penularan menjadi alasan utama munculnya istilah superflu. Para peneliti masih mengkaji angka penularan pastinya.
Dari sisi pemeriksaan, tenaga medis dapat mendeteksi influenza melalui rapid test menggunakan swab. Namun, pemeriksaan tersebut tidak mampu memastikan apakah pasien terinfeksi H3N2 subclade K. Untuk memastikan varian ini, laboratorium harus melakukan genome sequencing dengan fasilitas khusus. Dokter juga tidak bisa membedakan subclade K hanya dari gejala klinis, karena tampilannya menyerupai influenza pada umumnya.
Dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan menyampaikan bahwa subclade K sering memicu gejala yang lebih berat. Pasien biasanya mengalami demam tinggi hingga 39–41 derajat Celsius. Selain itu, pasien mengeluh nyeri otot hebat, lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala, serta nyeri tenggorokan. Kondisi ini dinilai lebih berat dibandingkan flu biasa dan COVID-19 yang saat ini umumnya bergejala ringan hingga sedang.
Hingga kini, Kementerian Kesehatan RI belum merilis laporan resmi terkait temuan subclade K di Indonesia. Meski demikian, dokter tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini. Masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh dengan makan bergizi, minum cukup, istirahat, dan olahraga teratur. Selain itu, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan dan rutin mencuci tangan. Vaksinasi influenza dan penerapan etika batuk serta bersin dapat membantu menekan risiko penularan.
(eni)














