Rahasia Sukses Kampung Lontong Surabaya Puluhan Tahun

Tradisi turun-temurun yang ubah kampung jadi pusat lontong Surabaya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi lontong. Pixabay/dok

Ilustrasi lontong. Pixabay/dok

Kampung Lontong Surabaya: Sentra Produksi yang Hidup Sejak Dini Hari

Jakarta, iNBrita.com — Di sebuah gang sempit kawasan Banyu Urip Lor, Surabaya, warga mulai beraktivitas bahkan ketika sebagian besar kota masih terlelap. Sejak dini hari, warga menyalakan dapur tradisional, lalu asap mulai mengepul, dan aroma lontong yang dibungkus daun pisang menyebar ke seluruh gang. Dari aktivitas itulah, Kampung Lontong terus menggerakkan kehidupan setiap hari tanpa henti.

Lebih jauh, masyarakat tidak hanya menjadikan kawasan ini sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat produksi lontong rumahan yang mereka jalankan secara turun-temurun. Seiring waktu, warga membangun tradisi ini hingga menjadi identitas ekonomi yang kuat di Kota Surabaya.

Salah satu pelaku usaha, Pak Pele (49), menjalankan usaha lontong ini sebagai bagian dari kehidupan keluarganya. Ia tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga mempertahankan keterampilan yang ia pelajari dari lingkungan sekitarnya.

Pada awalnya, ia membantu tetangga dalam usaha kecil sejak sekitar tahun 2000. Kemudian, ia mengembangkan usaha tersebut secara mandiri setelah belajar langsung dari para pelaku lain di kampungnya. Selanjutnya, ia bersama keluarga memperluas usaha: istrinya berjualan di pasar, anaknya ikut membantu, sementara ia mengatur distribusi ke pasar, katering, dan hotel di Surabaya.

Produksi Besar Lontong Setiap Hari

Seiring meningkatnya permintaan, warga Kampung Lontong meningkatkan kapasitas produksi mereka secara signifikan. Setiap hari, mereka mengolah sekitar 3,5 hingga 4 ton beras menjadi lontong. Bahkan, pada akhir pekan atau saat permintaan naik, mereka meningkatkan jumlah produksi lebih tinggi lagi.

Baca Juga :  Inovasi Martabak Manis Sehat, Nikmat Tanpa Tepung

Selain itu, Pak Pele menyuplai sekitar 1,7 ton beras setiap hari kepada para pembuat lontong lain di kampung tersebut. Dengan demikian, mereka membentuk jaringan produksi yang saling mendukung dan terus berjalan setiap hari.

Di sisi lain, warga mengatur proses produksi secara bertahap. Mereka mulai memasukkan beras ke dalam daun pisang pada siang hari, kemudian mereka memasak lontong selama berjam-jam hingga dini hari. Setelah itu, mereka mendistribusikan hasil produksi ke berbagai pasar di Surabaya menjelang subuh.

Kunci Kualitas Lontong

Untuk menjaga kualitas, para pembuat lontong menerapkan standar proses yang ketat. Mereka memasak lontong selama 7 hingga 8 jam agar beras benar-benar matang, padat, dan tidak berair.

Selain itu, mereka memilih bahan baku secara selektif. Mereka menggunakan beras dengan kadar air rendah karena jenis ini menghasilkan tekstur yang lebih stabil. Sebaliknya, jika mereka menggunakan beras yang terlalu lembap, hasilnya  menjadi tidak merata, keras di luar, lembek di dalam, bahkan lebih cepat basi.

Kemudian, mereka juga mengatur takaran dengan presisi. Mereka memastikan memiliki ukuran yang konsisten agar kualitas tetap terjaga di mata pelanggan.

Harga Stabil di Tengah Fluktuasi Bahan Pokok

Meskipun harga bahan baku sering berubah, para pelaku usaha tetap mempertahankan harga jual yang stabil. Mereka menjual satu sekitar Rp1.200 per biji agar pelanggan tetap bisa menjangkaunya.

Baca Juga :  Rekomendasi Parfum Pria Tahan Lama Terbaik 2026

Ketika harga bahan baku naik, mereka tidak langsung menaikkan harga jual. Sebaliknya, mereka menyesuaikan ukuran lontong agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.

Namun demikian, mereka tetap bergantung pada ketersediaan beras SPHP. Jika pasokan berkurang, harga pasar bisa meningkat dan memengaruhi biaya produksi.

Kebutuhan Produksi dan Dampak Ekonomi

Selain beras, mereka juga menggunakan gas elpiji dalam jumlah besar untuk memasak selama berjam-jam setiap hari. Mereka menghabiskan sekitar 6 hingga 10 tabung gas dalam satu hari produksi normal.

Bahkan, saat hari raya atau permintaan meningkat, mereka meningkatkan penggunaan gas secara signifikan karena volume produksi juga naik.

Lebih lanjut, Kampung Lontong yang berdiri sejak era 1970-an ini berawal ketika warga mulai mengembangkan usaha rumahan untuk menggantikan usaha lain yang kurang menguntungkan. Warga kemudian menyebarkan keterampilan membuat lontong dari satu rumah ke rumah lain hingga membentuk sentra produksi seperti sekarang.

Akhirnya, masyarakat Kampung Lontong membangun ekosistem ekonomi yang kuat. Mereka tidak hanya memproduksi makanan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal melalui distribusi ke berbagai sektor kuliner Surabaya.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai sumber penghidupan yang mereka kelola bersama setiap hari.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perbedaan Rendang Darek dan Pesisir Khas Minang Asli
Diskon Makanan Jamtos Bikin Pengunjung Antre Panjang
Tips Menyimpan Daging Kurban agar Tetap Awet
Camilan Viral Pizza Mini Roti Tawar Sosis Nikmat
Kunjungan Jensen Huang Bikin Restoran Ini Viral
Resep Roti Sobek Teflon Empuk Tanpa Oven Anti Gagal
Salad Buah Creamy Jadi Camilan Sehat Keluarga Favorit
Tujuh Kuliner Kekinian 2026 Favorit Anak Muda Indonesia
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:00 WIB

Perbedaan Rendang Darek dan Pesisir Khas Minang Asli

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:00 WIB

Rahasia Sukses Kampung Lontong Surabaya Puluhan Tahun

Minggu, 31 Mei 2026 - 22:00 WIB

Diskon Makanan Jamtos Bikin Pengunjung Antre Panjang

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:00 WIB

Tips Menyimpan Daging Kurban agar Tetap Awet

Selasa, 26 Mei 2026 - 02:00 WIB

Camilan Viral Pizza Mini Roti Tawar Sosis Nikmat

Berita Terbaru

Ilustrasi kopi. (Foto: Getty Images/frantic00)

Kesehatan

Minum Kopi Rutin Turunkan Risiko Penyakit Hati Kronis

Jumat, 17 Jul 2026 - 10:00 WIB

Harga emas Pegadaian hari ini terpantau stabil untuk produk Antam, UBS, dan Galeri 24(Foto : Dok Pegadaian)

Ekonomi

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Stabil, Antam Tetap Tinggi

Jumat, 17 Jul 2026 - 09:00 WIB

Teh chamomile hangat menjadi salah satu minuman alami yang membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.(Foto : Pixabay/Полина Андреева)

Kesehatan

5 Minuman Malam Hari Bantu Tidur Nyenyak Tanpa Obat

Rabu, 15 Jul 2026 - 23:00 WIB

Perwakilan PT TASPEN menyerahkan santunan JKK kepada ahli waris PPPK Nurijah di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.(Foto : Arsp Foto Taspen)

Ekonomi

Santunan JKK TASPEN Cair Rp832 Juta untuk Ahli Waris

Rabu, 15 Jul 2026 - 22:00 WIB