Home / Kuliner

Selasa, 4 November 2025 - 15:00 WIB

Warung Bakso Legendaris Solo Diduga Gunakan Bahan Nonhalal

Warung Bakso Remaja Gading di Solo tampak sepi setelah muncul dugaan penggunaan bahan nonhalal. (Foto: Dok. detikJateng)

Warung Bakso Remaja Gading di Solo tampak sepi setelah muncul dugaan penggunaan bahan nonhalal. (Foto: Dok. detikJateng)

Solo, iNBrita.com — Sebuah warung bakso legendaris di Solo membuat heboh publik setelah muncul dugaan penggunaan bahan nonhalal. Warung Bakso Remaja Gading yang sudah beroperasi sejak 1997 ini dikenal banyak dikunjungi oleh pelanggan Muslim.

Isu kehalalan tempat makan selalu menjadi perhatian penting di Indonesia karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, tidak semua pelaku usaha kuliner memiliki sertifikat halal atau mampu memastikan seluruh menunya benar-benar halal.

Kasus terbaru yang menimpa Bakso Remaja Gading di Solo memicu kekhawatiran masyarakat. Warung ini diduga menggunakan bahan nonhalal, padahal sudah beroperasi selama 28 tahun dan sering dikunjungi pelanggan Muslim.

Hingga kini, kepastian soal dugaan tersebut masih belum jelas. Pemilik warung membantah tudingan itu dan menyebut telah terjadi kesalahpahaman. Sementara itu, hasil uji laboratorium terhadap sampel bakso masih dalam proses dan baru akan keluar pada Jumat (7/11).

1. Warung Legendaris Sejak 1997

Warung Bakso Remaja Gading sudah menjadi tempat favorit warga Solo dan sekitarnya sejak sebelum krisis moneter 1998. Banyak pelanggan tetapnya berasal dari kalangan Muslim, sehingga isu nonhalal ini menimbulkan keresahan.

Warung ini berlokasi di Jalan Veteran, Joyosuran, Kampung Menangan, Pasar Kliwon, Solo, dan tetap bertahan sejak pertama kali buka pada 1997.

Baca juga :   Ratusan Kicau Mania Ramaikan Walikota Cup 2025

2. Awal Mula Dugaan Nonhalal

Dugaan penggunaan bahan nonhalal bermula dari surat keterangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Solo. Surat tersebut berisi hasil monitoring yang menyebut bahwa warung Bakso Remaja Gading menjual produk pangan nonhalal.

Menurut laporan detikJateng (Selasa, 4/11), isi berita acara didasarkan pada pernyataan pemilik warung sendiri kepada tim monitoring. Kepala DKPP Kota Solo, Wahyu Kristina, menjelaskan hal itu secara langsung.

“Berita acara itu berdasarkan self declare dari pelaku usaha. Waktu ditanya tim monitoring, pemilik menjawab sesuai berita acara, yakni mengaku menggunakan bahan nonhalal,” ujar Kristina, Senin (3/11).

Tak lama setelah itu, foto stiker bertuliskan “Masakan Mengandung Bahan Nonhalal” yang ditempel di warung tersebar luas di internet dan semakin memperkuat dugaan publik.

3. Pemilik Warung Membantah Tudingan

Setelah berita tersebut viral, pihak warung Bakso Remaja Gading membantah tudingan nonhalal. Anak pemilik warung, Thirthania, menjelaskan bahwa ayahnya salah paham ketika menjawab pertanyaan tim monitoring.

“Waktu itu bapak salah ngomong karena masih sakit. Beliau baru buka lagi setelah libur seminggu, jadi masih bingung. Saat ditanya, bapak menjawab nonhalal padahal maksudnya bukan begitu,” ujar Thirthania, Senin (3/11).

Akibat kekisruhan ini, pihak keluarga menutup sementara warung bakso tersebut. Pemerintah daerah pun sudah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium kesehatan daerah. Hasil pemeriksaan diperkirakan keluar pada Jumat (7/11).

Baca juga :   Jenis Kopi Populer yang Ternyata Berbahaya Bagi Kesehatan

4. Salah Satu Bakso Terenak di Solo

Selama bertahun-tahun, banyak pelanggan menilai Bakso Remaja Gading sebagai salah satu bakso terenak di Solo. Berdasarkan ulasan di Google Review, warung ini mendapat rating 3,7 dari 598 ulasan.

Seporsi bakso dijual mulai Rp19.000, sedangkan mie ayamnya hanya Rp10.000. Banyak pelanggan memuji rasa kaldunya yang gurih dan tekstur baksonya yang kenyal.

“Ini salah satu bakso favoritku di Gading, Solo. Satu porsi Rp19.000, rasanya enak banget,” tulis salah satu pelanggan.
“Anak-anak saya suka bakso ini. Biasanya kami beli bakso dan kaldunya saja untuk dimakan di rumah. Rasanya enak dan kuahnya segar,” tulis pelanggan lainnya.

5. Menunggu Kepastian

Kini, masyarakat Solo masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan kebenaran dugaan penggunaan bahan nonhalal. Pihak warung berharap hasil tersebut bisa membersihkan nama baik mereka dan memulihkan kepercayaan pelanggan.

Berita ini 4 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Potongan roti tawar lembut berwarna cokelat keemasan tersusun di keranjang rotan siap disajikan untuk sarapan.

Kuliner

Roti Tawar Buatan Sendiri Jadi Pilihan Sehat
Aneka jajanan tradisional Indonesia seperti klepon, lupis, dan kue putu tersaji di atas piring bambu beralas daun pisang.

Kuliner

Alpukat, Pisang, dan Jajanan Tradisional Bebas Gluten
Lemet singkong tradisional dibungkus daun pisang

Kuliner

Lemet Singkong Manis Legit Camilan Tradisional Khas Jawa
Toko roti Alexander Taylor di South Lanarkshire, Skotlandia, tampak depan bangunan bersejarah berusia 200 tahun.

Kuliner

Toko Roti 200 Tahun di Skotlandia Tutup
Gambar berbagai jenis saus di atas meja kayu.

Kuliner

Fakta Menarik di Balik Lima Saus Populer Dunia
Bahan membuat martabak manis tanpa tepung, terdiri dari agar-agar bubuk, jeli instan, telur, dan gula diet untuk camilan rendah karbo.

Kuliner

Inovasi Martabak Manis Sehat, Nikmat Tanpa Tepung
Foto warung pecel lele dengan menu lele goreng, nasi, lalapan, dan sambal yang tersaji di meja.

Kuliner

Lima Tips Jitu Memulai Usaha Warung Pecel Lele
Seorang wanita memilih makanan sehat berupa sayur dan buah untuk menjaga kesehatan paru-paru.

Kuliner

5 Makanan yang Bisa Merusak Kesehatan Paru-Paru