Jakarta, iNBrita.com – Gesekan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memanas setelah Arab Saudi memperkuat kampanye media yang menyoroti kebijakan UEA.
Pengamat menyebut perselisihan ini sebagai yang terburuk di kawasan Teluk dalam beberapa tahun terakhir, dan hal itu memicu kekhawatiran atas dampaknya terhadap pusat keuangan Timur Tengah.
Media pemerintah dan media sosial Arab Saudi menuduh UEA melanggar hak asasi manusia dan mengkhianati sekutu selama beberapa minggu setelah konflik singkat di Yaman. Dalam konflik itu, Arab Saudi mengebom posisi separatis yang didukung UEA untuk menghentikan serangan mereka.
Televisi Al-Ekhbariya Arab Saudi menuduh, “UEA berinvestasi dalam kekacauan dan mendukung separatis dari Libya hingga Yaman dan Tanduk Afrika.”
Kecaman ini menandai eskalasi yang belum pernah terlihat sejak Arab Saudi dan UEA memblokade Qatar lebih dari tiga tahun lalu karena perbedaan politik sejak 2017.
Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, mengatakan bahwa monarki di kawasan biasanya menonjolkan citra perdamaian dan stabilitas. Namun, kini Arab Saudi menyingkap konflik lama “secara terbuka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Jacobs menambahkan, “Serangan di media sosial mengingatkan banyak orang pada krisis Teluk sebelumnya. Kini Riyadh menyoroti kebijakan regional Abu Dhabi, dan tanda-tanda mereda belum terlihat.”
Sementara itu, Abu Dhabi sebagian besar tetap diam. Profesor ilmu politik Emirat, Abdulkhaleq Abdulla, menegaskan, “UEA tidak terbiasa memprovokasi saudara kita.”
Ketegangan ini mencerminkan dinamika baru di Teluk: Arab Saudi menggunakan media untuk menekan UEA, sementara Abu Dhabi memilih pendekatan hati-hati. Para pengamat menilai konflik ini berpotensi memengaruhi perdagangan, investasi, dan stabilitas politik regional jika eskalasi berlanjut.
(Tim*)














