Dubai, iNBrita.com — Sejumlah turis yang terjebak di Dubai mulai membagikan pengalaman mereka di media. Salah satunya adalah Emilia Vasquez, wisatawan asal Amerika Serikat yang mengaku harus mengeluarkan biaya hingga Rp8 juta per hari selama tertahan di kota tersebut.
Turis AS Terjebak Akibat Gangguan Penerbangan
Emilia Vasquez bekerja sebagai karyawan Goodwill di Amerika Serikat. Ia tidak bisa meninggalkan Dubai karena banyak penerbangan di wilayah Timur Tengah mengalami penundaan bahkan penghentian sementara akibat konflik di kawasan tersebut. Kondisi itu memaksanya memperpanjang masa tinggal di Dubai.
Setiap hari, Vasquez mengeluarkan sekitar USD 500 atau sekitar Rp8,4 juta untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu penerbangan kembali beroperasi.
Biaya Hotel dan Kebutuhan Harian Membengkak
Awalnya, ia menginap di hotel Taj Dubai dengan biaya sekitar USD 300 atau sekitar Rp5 juta per malam. Sisa pengeluarannya ia gunakan untuk makanan, transportasi, dan kebutuhan harian lainnya.
Namun, biaya yang harus ia keluarkan terus meningkat karena masa tinggalnya semakin lama dari rencana awal.
Dukungan Pemerintah untuk Turis Terlantar
Vasquez mengatakan otoritas Uni Emirat Arab sebenarnya menyediakan dukungan bagi wisatawan yang terlantar. Pemerintah menyiapkan sejumlah akomodasi harian untuk para turis yang terjebak.
Meski begitu, jumlah akomodasi tersebut terbatas. Dalam beberapa kasus, wisatawan harus menggunakan sistem penggantian biaya atau reimbursement setelah mereka membayar terlebih dahulu.
Hotel Sarankan Cari Akomodasi Lain
Vasquez juga sempat menghubungi pihak hotel ketika biaya menginap meningkat. Pihak hotel merespons dengan cepat, namun mereka menyarankan Vasquez mencari tempat lain jika ia tidak mampu melanjutkan pembayaran kamar.
Maskapai dan Otoritas Pantau Situasi
Dalam situasi gangguan perjalanan besar, maskapai dan pemerintah biasanya berusaha membantu para penumpang. Namun proses bantuan dan penggantian biaya sering membutuhkan waktu cukup lama.
Akibatnya, banyak wisatawan harus menanggung biaya harian sendiri selama menunggu penerbangan kembali normal.
Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memicu gangguan perjalanan yang luas. Banyak maskapai memilih mengubah rute penerbangan, menunda jadwal, atau bahkan menghentikan sementara layanan mereka karena beberapa wilayah udara terdampak konflik.
Otoritas penerbangan bersama maskapai terus memantau situasi tersebut sambil memprioritaskan keselamatan penumpang.
Sementara itu, para wisatawan yang masih terjebak di kawasan tersebut harus menghadapi ketidakpastian kapan penerbangan akan kembali normal. Kondisi ini membuat beban keuangan mereka terus bertambah setiap hari.
(VVR*)














