Dari Penengah Jadi Penonton, Eropa Melemah Atas Iran

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 16 Maret 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uni Eropa di Tengah Krisis Iran: Antara Peran dan Ketidakberdayaan

Uni Eropa di Tengah Krisis Iran: Antara Peran dan Ketidakberdayaan

Uni Eropa di Tengah Krisis Iran: Antara Peran dan Ketidakberdayaan

Jakarta , iNBrita.com  – Krisis di Iran memunculkan pertanyaan serius: apakah Uni Eropa (UE) masih bisa mempengaruhi situasi, atau hanya menonton dari pinggir lapangan? Parlemen Eropa pekan ini menyoroti kesulitan UE mengubah keprihatinan menjadi tindakan nyata.

Para anggota parlemen berdiskusi di Strasbourg tentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perdebatan itu memperlihatkan perpecahan internal UE, bahkan di antara institusi-institusinya. Julien Barnes-Dacey, direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di European Council on Foreign Relations, menegaskan, “Uni Eropa saat ini tidak memiliki peran berarti. Titik. Eropa sekarang tidak relevan.”

Dari Penengah Menjadi Penonton

Sejak 2006, Uni Eropa memposisikan diri sebagai mediator utama negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat. Negosiasi itu menghasilkan kesepakatan nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sebagian sanksi. UE kemudian memimpin koordinasi dan membela kesepakatan itu.

Namun, Presiden AS Donald Trump menarik Washington dari JCPOA pada 2018, melemahkan posisi diplomatik Eropa di wilayah strategis. Barnes-Dacey menilai penurunan pengaruh UE bukan hanya akibat Trump. “Selama bertahun-tahun, Eropa menurunkan prioritas terhadap Timur Tengah. Kini, AS dan Iran jarang menganggap Eropa mediator yang kredibel,” ujarnya.

Analis Maneli Mirkhan, lahir di Teheran dan kini berbasis di Paris, menilai UE terlalu fokus pada diplomasi dan sanksi, sementara Iran terus mengembangkan kemampuan militer, nuklir, dan teknologi.

Perpecahan Internal Memperburuk Krisis

Perpecahan internal UE memperparah krisis. Kebijakan luar negeri UE menuntut konsensus antarnegara anggota, sesuatu yang sulit dicapai ketika situasi bergerak cepat. Spanyol mengecam serangan terhadap Iran sebagai pelanggaran hukum internasional, sementara Jerman awalnya mendukung tekanan AS dan Israel sebelum melunak. Prancis dan Inggris menyerukan kehati-hatian sambil tetap mengkritik Iran.

Di tingkat institusi, pesan UE juga tidak seragam. Kepala diplomasi Kaja Kallas menekankan de-eskalasi, sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mendorong peluang transisi dan harapan baru bagi rakyat Iran.

Fokus Geopolitik Beralih ke Ukraina

Fokus Eropa yang kini tertuju pada perang di Ukraina juga melemahkan posisinya di Timur Tengah. UE menghindari konfrontasi dengan AS terkait Iran untuk menjaga hubungan transatlantik, baik dalam perdagangan maupun menghadapi Rusia. Barnes-Dacey menegaskan, “Eropa lebih memprioritaskan menjaga keselarasan dengan Amerika.”

Dampak Tetap Akan Dirasa

Meski tampak terpinggirkan, Eropa tetap akan merasakan efek krisis Iran. Konflik berkepanjangan bisa menaikkan harga energi, mengguncang stabilitas regional, dan mendorong tekanan migrasi ke Eropa. Mirkhan memperingatkan, kegagalan menciptakan transisi yang stabil akan menimbulkan risiko besar bagi UE.

Masih Ada Harapan?

Analis berbeda pendapat soal peran uni Erofa di masa depan. Barnes-Dacey pesimistis, menilai Uni Erofa sulit pulih tanpa perubahan besar dalam politik internal. Sebaliknya, Mirkhan optimistis. Ia menilai meski Eropa tidak dominan dalam fase militer, UE masih bisa mendukung oposisi, memfasilitasi dialog, dan membantu merancang kerangka demokrasi selama transisi politik di Iran.

Namun Barnes-Dacey menyimpulkan, jika krisis Iran menjadi ujian kemampuan geopolitik UE, blok ini gagal. Perbandingan dengan Ukraina menunjukkan, ketika bersatu, UE mampu bertindak efektif. Dalam kasus Iran, UE masih harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penonton.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Megawati Hangestri Jadi Kunci Kebangkitan Hyundai Hillstate
Megawati Cetak 14 Poin, Hyundai Hillstate Tumbang Telak
Ronaldo Cium Lambang Arab Saudi, Gesturnya Jadi Sorotan Dunia
Robert Hall dan Michael Woodford Raih Nobel Ekonomi 2026
Serangan Houthi di Bandara Riyadh Tewaskan 13 Orang
Jihan Dimack Cetak Sejarah, Miss Grand International 2026
Indonesia-Mesir Perkuat Investasi, Peluang Bisnis Global Strategis
El Nino Super 2026 Ancam Suhu Bumi Meningkat
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Megawati Hangestri Jadi Kunci Kebangkitan Hyundai Hillstate

Jumat, 16 Oktober 2026 - 05:00 WIB

Megawati Cetak 14 Poin, Hyundai Hillstate Tumbang Telak

Rabu, 14 Oktober 2026 - 05:00 WIB

Ronaldo Cium Lambang Arab Saudi, Gesturnya Jadi Sorotan Dunia

Selasa, 13 Oktober 2026 - 05:00 WIB

Robert Hall dan Michael Woodford Raih Nobel Ekonomi 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Serangan Houthi di Bandara Riyadh Tewaskan 13 Orang

Berita Terbaru

BYD Racco, mobil listrik mungil asal Jepang, mulai dipasarkan di Sri Lanka dengan harga mencapai Rp 625 juta.(Foto: BYD)

Teknologi

BYD Racco Dijual di Sri Lanka, Harga Tembus Rp 625 Juta

Minggu, 18 Okt 2026 - 13:00 WIB

MSCI berpotensi mengubah status pasar saham Indonesia dan memicu arus keluar dana asing hingga Rp 132 triliun.(Foto : YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Ekonomi

MSCI Ubah Status Indonesia, Dana Asing Terancam Keluar

Minggu, 18 Okt 2026 - 12:00 WIB

BMKG memprediksi hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, 18 Oktober 2026.(Foto : Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Nasional

BMKG Prediksi Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Indonesia

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:00 WIB

Harga emas Antam pada Minggu, 18 Oktober 2026, bertahan di Rp 2.572.000 per gram.(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp 2,57 Juta

Minggu, 18 Okt 2026 - 10:00 WIB

Singapura menyoroti tujuh perusahaan Indonesia terkait karhutla dan kabut asap lintas batas, sementara DPR mendesak pemerintah membuka data 52 perusahaan yang diduga terkait kebakaran hutan.(Foto : tribunnews.com/HO)

Nasional

Singapura Peringatkan 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla

Minggu, 18 Okt 2026 - 03:00 WIB