Jakarta, iNBrita.com – Jumlah pengidap kanker ginjal terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data GLOBOCAN mencatat, insiden kanker ginjal pada laki-laki secara global mencapai 4,8 persen dari seluruh jenis kanker. Angka ini menempatkan kanker ginjal di peringkat ketujuh sebagai kanker yang paling banyak dialami laki-laki.
Tidak hanya jumlah kasus yang naik, usia pengidap juga mulai bergeser ke kelompok yang lebih muda. Kanker ginjal berkembang secara perlahan dan sering tidak menunjukkan gejala pada стадии awal, sehingga banyak orang tidak menyadarinya.
Dokter spesialis urologi dari FK-KMK UGM, Dr dr Ahmad Zulfan Hendri SpU(K), menjelaskan bahwa kanker ginjal bukan penyakit menular. Penyakit ini berasal dari clear cell atau sel jernih yang tampak transparan di bawah mikroskop. Meski penyebab pastinya belum diketahui, ia menegaskan bahwa gaya hidup berisiko menjadi faktor pemicu utama.
Faktor Keturunan dan Risiko Tersembunyi
Riwayat keluarga meningkatkan risiko seseorang terkena kanker ginjal hingga dua kali lipat. Selain itu, penderita gangguan fungsi ginjal kronis juga memiliki risiko lebih tinggi.
Sayangnya, banyak orang baru menyadari penyakit ini saat sudah memasuki stadium lanjut. Minimnya gejala pada tahap awal membuat pengidap terlambat mendapatkan penanganan.
“Kanker ini tidak menunjukkan gejala khas di awal. Karena itu, banyak pasien datang saat kondisinya sudah parah, sehingga peluang hidupnya lebih rendah,” jelas dr Ahmad.
Gejala yang Sering Terabaikan
Seiring perkembangan penyakit, beberapa gejala mulai muncul, seperti:
- Urine bercampur darah
- Muncul benjolan atau rasa tidak nyaman di area pinggang
- Nyeri atau pegal yang sering dianggap kelelahan biasa
Dr Ahmad menyarankan masyarakat, khususnya yang berisiko, untuk rutin melakukan pemeriksaan seperti USG dan medical check-up setidaknya setahun sekali. Jika dokter mendeteksi tumor sejak dini dengan ukuran di bawah 7 cm, pasien bisa menjalani operasi sebagai langkah penyembuhan utama.
Namun, jika kanker sudah menyebar, dokter akan fokus pada pengobatan untuk menekan pertumbuhan sel kanker dan memperpanjang harapan hidup pasien.
“Kanker bersifat semi-darurat. Kita harus bergerak cepat. Jika pasien tidak rutin kontrol, risiko penyebaran sel tumor akan semakin besar,” tegasnya.
(VVR*)









