Sungai Penuh, iNBrita.com –-Kota Sungai Penuh Raih Prestasi Nasionl dan kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional setelah dinobatkan sebagai kota terbaik se-Sumatera dalam penanggulangan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting. Selain penghargaan tersebut, Kota Sungai Penuh juga menerima insentif fiskal sebesar Rp3 miliar dari pemerintah pusat.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan
Capaian ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil kerja panjang yang konsisten dan kolaboratif antara pemerintah daerah, TP PKK, dan masyarakat. Pemerintah Kota Sungai Penuh memperkuat jaring pengaman sosial, memperluas akses layanan kesehatan dasar, serta meningkatkan intervensi gizi bagi ibu dan anak sebagai langkah konkret menekan angka stunting dan kemiskinan secara berkelanjutan.
Peran TP PKK dan Inovasi Sosial
Di tingkat akar rumput, TP PKK memainkan peran penting sebagai penggerak yang dekat dengan masyarakat. Salah satu figur yang menonjol dalam gerakan ini adalah Sri Kartini Alfin. Melalui pendekatan kepemimpinan yang lembut namun berdampak luas, ia menghadirkan inovasi sosial yang menyentuh langsung kehidupan warga.
Dari Sri Kartini Alfin ini gagasan tersebut lahirlah Gerakan 3S (Segenggam beras, Sebutir telur, dan Seribu rupiah). Gerakan sederhana ini berkembang menjadi kekuatan sosial baru yang mendorong masyarakat untuk saling berbagi secara rutin, meski dalam jumlah kecil namun berkelanjutan.
Masyarakat dan pemerintah kemudian memanfaatkan bantuan yang terkumpul untuk mendukung penanganan stunting serta pengentasan kemiskinan di berbagai wilayah.
Gotong Royong di Akar Rumput
Gerakan ini membuat program pemerintah tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar hadir dan hidup di tengah masyarakat. Dari dapur rumah tangga hingga posyandu, membentuk kesadaran kolektif bahwa mereka memulai perubahan besar dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Alfin kemudian mengoordinasikan seluruh perangkat daerah agar setiap program berjalan terpadu, terarah, dan tepat sasaran. Sementara itu, TP PKK berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Sinergi inilah yang menjadi kekuatan utama sehingga Kota Sungai Penuh mampu meraih apresiasi dari pemerintah pusat.
Lebih dari sekadar penghargaan, capaian ini menjadi bukti bahwa pembangunan sosial yang berhasil selalu bertumpu pada kolaborasi, kepedulian, dan ketulusan.
Penutup
Kota Sungai Penuh membuktikan bahwa pemerintah, perempuan penggerak PKK, dan masyarakat dapat mewujudkan perubahan nyata ketika mereka bergerak dalam satu irama.
(eny)









