Mayoritas Mata Uang Asia Melemah
Data Refinitiv per pukul 09.15 WIB menunjukkan tujuh dari 10 mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS, sementara tiga mata uang lainnya justru menguat.
Rupiah, Yen, dan Baht Menguat Tipis
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang masih mampu menguat pagi ini. Mata uang Garuda naik tipis 0,03% ke level Rp18.015/US$. Meski demikian, rupiah tetap berada di atas level psikologis Rp18.000/US$.
Selain rupiah, yen Jepang juga menguat 0,04% ke posisi JPY 159,2/US$, sementara baht Thailand naik 0,09% ke level THB 32,65/US$.
Won dan Ringgit Pimpin Pelemahan
Sebaliknya, won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam pagi ini. Mata uang tersebut turun 0,98% ke posisi KRW 1.546,4/US$. Ringgit Malaysia menyusul dengan pelemahan 0,50% ke level MYR 4,030/US$.
Dolar Taiwan juga tertekan cukup dalam setelah turun 0,19% ke posisi TWD 31,482/US$. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,18% ke level PHP 61,535/US$.
Tekanan Ringan di Mata Uang Lain
Tekanan lebih ringan terjadi pada dolar Singapura yang turun 0,05% ke posisi SGD 1,284/US$. Di sisi lain, pelaku pasar juga mendorong dong Vietnam dan yuan China melemah masing-masing sebesar 0,04% dan 0,01% terhadap dolar AS.
Dolar AS Tetap Kuat sebagai Safe Haven
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) bergerak stagnan di posisi 99,415. Meski tidak banyak berubah, dolar AS tetap kuat karena investor memburunya sebagai aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik.
Konflik Timur Tengah Picu Permintaan Dolar
Permintaan terhadap dolar AS meningkat setelah upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan perang di Timur Tengah dan mendorong perdamaian dengan Teheran menghadapi hambatan baru.
Milisi Hizbullah yang didukung Iran menolak gencatan senjata baru di Lebanon pada Kamis. Di waktu yang sama, Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.
Konflik yang meningkat sepanjang pekan ini, termasuk aksi saling serang antara pasukan Iran dan AS, turut mendorong harga minyak Brent bertahan di atas US$90 per barel.
Dampak ke Pasar Asia
Kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik membuat investor kembali mencari aset aman, termasuk dolar AS.
Situasi ini akhirnya mempersempit ruang penguatan mata uang lainnya, termasuk mata uang di kawasan Asia. Akibatnya, mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar AS pada pagi ini.









