Sungai Barito Surut, Transportasi Kalteng Terancam Lumpuh

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sungai Barito Mengering, Bawah Jembatan Kalahien Bak Gurun Pasir (Dok. Istimewa)

Sungai Barito Mengering, Bawah Jembatan Kalahien Bak Gurun Pasir (Dok. Istimewa)

Jakarta , iNBrita.com – Sungai Barito di Kalimantan Tengah mengalami penyusutan debit air secara drastis akibat kemarau yang lebih kering dari biasanya dan rendahnya curah hujan.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan kondisi tersebut mulai berdampak terhadap transportasi sungai, distribusi logistik, hingga aktivitas ekonomi regional.

Menurut Guswanto, ketinggian air Sungai Barito di Muara Teweh kini hanya sekitar 0,6 meter. Padahal, dalam kondisi normal, ketinggian air berada pada kisaran 5 hingga 11,5 meter.

“Akibatnya, transportasi sungai hampir lumpuh,” kata Guswanto, Jumat (21/8/2026).

Lebih lanjut, Guswanto menyebutkan hamparan pasir telah muncul di bawah Jembatan Kalahien, Barito Selatan. Kondisi tersebut membuat kapal besar, tongkang batu bara, minyak, dan kayu kesulitan melintas.

“Hanya perahu kecil seperti jukung yang masih bisa beroperasi terbatas,” ujarnya.

Kemarau Panjang Picu Debit Air Menurun

Guswanto menjelaskan, kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan debit Sungai Barito terus menyusut. Selain itu, rendahnya curah hujan membuat pasokan air dari wilayah hulu berkurang.

“Fenomena ini sebagai dampak musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Hujan dengan intensitas tinggi sudah lama berakhir, dan hujan ringan yang turun tidak cukup menambah debit sungai,” jelas Guswanto.

Dia menambahkan, penurunan curah hujan di Kalimantan Tengah turut mengurangi pasokan air dari hulu Pegunungan Schwaner.

Kondisi serupa, kata Guswanto, juga terjadi di sejumlah sungai lain di Kalimantan. Situasi tersebut menunjukkan adanya pola iklim yang semakin ekstrem.

Daratan Muncul di Tengah Sungai Barito

Dilansir detikKalimantan, kondisi Sungai Barito yang menyusut terlihat jelas di sekitar Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan.

Debit air yang terus berkurang menyebabkan sejumlah bagian sungai mengalami pendangkalan. Bahkan, hamparan pasir dan daratan mulai muncul di tengah aliran Sungai Barito.

Pemandangan tersebut membuat aliran sungai tampak terpecah. Sebagian kawasan bahkan terlihat menyerupai hamparan pantai akibat munculnya gosong pasir.

Warga setempat, Rudi Hermansyah, mengatakan kondisi Sungai Barito mulai terlihat cukup parah sejak awal Agustus.

Menurut Rudi, munculnya daratan di tengah sungai menjadi tanda bahwa debit air mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut juga mulai mengganggu aktivitas transportasi air.

Sejumlah kapal pengangkut barang dan tongkang dilaporkan kesulitan melintasi bagian sungai yang mengalami pendangkalan.

Ancaman terhadap Ekonomi Daerah

Guswanto mengingatkan bahwa penyusutan debit Sungai Barito tidak hanya berdampak terhadap transportasi. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, sektor ekonomi yang bergantung pada jalur sungai juga berpotensi mengalami tekanan.

“Ini adalah bagian dari siklus iklim yang lebih kering, dengan konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional,” ujar Guswanto.

Dia menilai kondisi tersebut juga dapat menurunkan kontribusi sektor pertambangan dan perkebunan terhadap perekonomian daerah apabila tren kemarau ekstrem terus berlanjut.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebakaran Gunung Sumbing, Polda Siapkan Water Bombing
Kasus Korupsi Sudewo, Divonis 8,5 Tahun Penjara
UMP 2027 Naik Berapa Persen? Ini Prediksi Terbaru Pemerintah
Tambang Emas Lebong Picu Konflik dan Kerusakan Lingkungan
Registrasi Bansos Baru 9,68%, Pemerintah Percepat Pendataan
BMKG Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Mundur, Simak Jadwalnya
Kamarudin Simanjuntak Wafat Setelah Berjuang Melawan Penyakit
Penerbangan Bandara Hang Nadim Normal, Kabut Asap Normal
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Kebakaran Gunung Sumbing, Polda Siapkan Water Bombing

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:00 WIB

Kasus Korupsi Sudewo, Divonis 8,5 Tahun Penjara

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:00 WIB

UMP 2027 Naik Berapa Persen? Ini Prediksi Terbaru Pemerintah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Tambang Emas Lebong Picu Konflik dan Kerusakan Lingkungan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Registrasi Bansos Baru 9,68%, Pemerintah Percepat Pendataan

Berita Terbaru

Ilustrasi peringatan vitamin anak palsu yang beredar online.(Foto AI INBRITA)

Kesehatan

Vitamin Anak Palsu Berbahaya, Kenali Risiko Penanganannya

Jumat, 23 Okt 2026 - 02:00 WIB

Presiden Prabowo Subianto memimpin sidang kabinet paripurna. (istimewa)

Uncategorized

Prabowo Dorong Pemerataan Kekayaan Ekonomi Indonesia

Jumat, 23 Okt 2026 - 01:00 WIB

Ilustrasi Puppy Merge, game penghasil uang dengan klaim saldo DANA.

Teknologi

Puppy Merge Game Penghasil Uang, Benarkah Saldo DANA Cair?

Jumat, 23 Okt 2026 - 00:00 WIB

Foto: Pemandangan Pelabuhan Victoria yang diselimuti kabut laut di Hong Kong, Cina, 2 Maret 2025. (REUTERS/Tyrone Siu)

Uncategorized

Investor Global Serbu China, Dana Miliaran Dolar Mengalir Deras

Kamis, 22 Okt 2026 - 23:00 WIB

Honda Jazz GE8 bekas masih diminati dengan harga Rp 95 juta hingga Rp 145 juta per Oktober 2026.

Teknologi

Harga Honda Jazz GE8 Bekas Oktober 2026 Terbaru

Kamis, 22 Okt 2026 - 22:00 WIB