Jakarta, iNBrita.com – Emas kembali masuk dalam strategi pengelolaan cadangan bank sentral. Sejumlah bank sentral kini melihat emas bukan hanya sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menghadapi risiko inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
Tren tersebut terlihat dari aktivitas pembelian emas oleh bank sentral sepanjang 2026.
Berdasarkan laporan terbaru World Gold Council (WGC) yang dikutip Minggu (6/9/2026), bank sentral mencatat pembelian bersih atau net buying emas sebesar 23 ton pada Juli 2026.
Hingga Juli 2026, bank sentral yang melaporkan aktivitasnya telah membeli sekitar 130 ton emas. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan sekitar 160 ton pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, sejumlah bank sentral tetap aktif menambah cadangan emas. Beberapa negara berkembang bahkan terus meningkatkan kepemilikannya.
China Tambah 20 Ton Emas
China menjadi salah satu negara yang kembali mencuri perhatian. People’s Bank of China (PBoC) membeli 20 ton emas pada Juli 2026.
Pembelian tersebut melanjutkan tren positif selama 21 bulan berturut-turut. Dengan tambahan itu, China telah membeli sekitar 60 ton emas sepanjang 2026.
Kini, cadangan emas China mencapai sekitar 2.366 ton. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 8 persen dari total cadangan negaranya.
China juga menjadi pemegang cadangan emas terbesar keenam di dunia berdasarkan data yang dilaporkan secara global.
Polandia mencatat pembelian yang lebih besar. National Bank of Poland membeli 8 ton emas pada Juli 2026. Sepanjang tahun ini, bank sentral Polandia telah membeli 90 ton emas.
Total kepemilikan emas Polandia kini mencapai 640 ton. Jumlah tersebut mendekati target 700 ton.
Emas juga menyumbang sekitar 28 persen dari total cadangan Polandia.
Korea Selatan Kembali Alokasikan Emas
Bank of Korea (BOK) mencatat perkembangan yang cukup mencolok. Setelah 13 tahun, bank sentral Korea Selatan kembali mengumumkan alokasi resmi untuk emas.
BOK mengalokasikan dana melalui exchange traded funds (ETF). Nilai alokasi tersebut diperkirakan mencapai 250 juta dollar AS atau setara dengan sekitar 2 ton emas.
BOK juga menyiapkan langkah lain. Bank sentral tersebut berencana membeli emas yang dimurnikan di dalam negeri.
Menurut WGC, BOK mengambil langkah tersebut untuk mendiversifikasi cadangan. Bank sentral Korea Selatan juga ingin melindungi cadangan dari risiko inflasi dan geopolitik.
Keputusan BOK menunjukkan perubahan cara bank sentral memandang emas. Mereka tidak lagi melihat emas hanya sebagai aset investasi.
Kini, sejumlah bank sentral menggunakan emas sebagai bagian dari strategi untuk mengelola risiko ekonomi dan geopolitik.
WGC juga mencatat sejumlah perkembangan positif terkait emas sepanjang Juli 2026.
Namibia Tingkatkan Target Cadangan Emas
Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang meningkatkan perhatian terhadap emas.
Bank of Namibia juga menaikkan target kepemilikan emas dalam cadangannya. Bank tersebut menargetkan kenaikan porsi emas dari 1 persen menjadi 3 persen pada akhir Maret 2027.
Untuk mencapai target tersebut, Bank of Namibia menandatangani perjanjian pembelian emas pada Maret 2026.
Bank sentral Namibia bekerja sama dengan QKR Namibia Navachab, perusahaan pertambangan lokal, dalam pembelian tersebut.
Geopolitik Ubah Strategi Penyimpanan Emas
Bank sentral kini tidak hanya memperhatikan jumlah emas yang mereka miliki. Mereka juga mulai mempertimbangkan lokasi penyimpanan emas.
WGC menemukan perubahan tersebut melalui survei 2026 terhadap 68 bank sentral. Survei itu melibatkan 16 bank sentral dari negara maju dan 52 bank sentral dari negara berkembang.
Hasil survei menunjukkan sejumlah bank sentral mempertimbangkan penambahan penyimpanan emas di dalam negeri. Sebagian lainnya ingin menyebarkan penyimpanan emas ke beberapa lokasi di luar negeri.
Bank sentral tersebut berencana melakukan perubahan dalam 12 bulan berikutnya.
Venezuela memberikan contoh nyata mengenai pentingnya lokasi penyimpanan emas.
Pemerintah Venezuela meminta pengembalian atau repatriasi sekitar 4 miliar dollar AS cadangan emas yang tersimpan di Bank of England.
Venezuela mengajukan permintaan tersebut ketika negara itu membangun kembali infrastrukturnya setelah gempa bumi pada 2026.
Menurut WGC, Venezuela tidak dapat mengakses cadangan emasnya sejak 2018. Pemerintah Inggris menolak mengakui pemerintahan sosialis Venezuela.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil 2026 Central Banks Gold Reserves Survey dari WGC. Survei itu menunjukkan meningkatnya minat bank sentral untuk menyimpan emas di dalam negeri sekaligus menyebarkan penyimpanan ke lokasi lain.
Artinya, bank sentral kini tidak hanya menghitung jumlah emas dalam cadangan. Mereka juga memperhatikan lokasi penyimpanan dan akses terhadap aset tersebut.
Tidak Semua Bank Sentral Membeli Emas
Meski banyak bank sentral menambah emas, tidak semua negara mengambil langkah yang sama.
Rusia justru menjadi penjual bersih terbesar pada Juli 2026. Bank sentral Rusia menjual 6 ton emas pada bulan tersebut.
Sepanjang 2026, Rusia telah menjual sekitar 50 ton emas. Akibatnya, total kepemilikan emas Rusia turun menjadi 2.277 ton.
Turkiye juga menjual emas. Bank sentral Turkiye melepas 1 ton emas pada Juli 2026.
Sepanjang tahun ini, Turkiye telah menjual sekitar 85 ton emas.
Uzbekistan juga menjual 1 ton emas pada Juli 2026. Namun, secara kumulatif, negara tersebut masih mencatat pembelian 40 ton emas sepanjang tahun.
Uzbekistan Kuasai 87 Persen Cadangan dalam Emas
Uzbekistan memiliki porsi emas yang sangat besar dalam cadangan negaranya.
Total kepemilikan emas Uzbekistan mencapai sekitar 431 ton. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 87 persen dari total cadangan negara.
Gubernur Bank Sentral Uzbekistan Timur Ishmetov sebelumnya mengatakan emas mencatat kinerja investasi yang sangat baik.
Namun, bank sentral tetap mempertimbangkan penjualan sebagian emas. Mereka akan mempertimbangkan penjualan ketika harga mencapai level yang menguntungkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan cadangan secara keseluruhan.
“Emas ternyata menjadi investasi terbaik sejauh ini,” kata Ishmetov, sebagaimana dikutip WGC.
Ishmetov juga mengatakan bank sentral sedang mempertimbangkan penjualan emas pada harga yang menguntungkan. Bank sentral akan memasukkan keputusan tersebut dalam strategi pengelolaan cadangan secara keseluruhan.
Emas Jadi Pelindung dari Risiko Ekonomi
Perkembangan di Korea Selatan, China, Polandia, Namibia hingga Venezuela menunjukkan beragam strategi bank sentral dalam mengelola emas.
BOK menggunakan emas untuk mendiversifikasi cadangan. Bank sentral Korea Selatan juga memanfaatkan emas untuk menghadapi risiko inflasi dan geopolitik.
Venezuela menghadapi persoalan berbeda. Negara tersebut lebih fokus pada akses dan lokasi penyimpanan cadangan emas.
Sementara itu, Polandia dan China terus menambah kepemilikan emas.
Uzbekistan mengambil pendekatan lain. Negara tersebut memiliki porsi emas yang sangat besar sehingga bank sentral mempertimbangkan penjualan ketika harga berada pada level yang menguntungkan.
Secara keseluruhan, data WGC menunjukkan bank sentral masih menjadi pembeli bersih emas pada Juli 2026.
Bank sentral mencatat pembelian bersih sebesar 23 ton pada bulan tersebut. China dan Polandia menjadi pembeli terbesar.
Di sisi lain, Rusia dan Turkiye menjadi penjual besar sepanjang tahun.
Perbedaan tersebut menunjukkan setiap bank sentral memiliki strategi yang berbeda dalam mengelola cadangan emas. Namun, tren global menunjukkan emas tetap memegang peran penting di tengah risiko inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
(VVR*)









