Jakarta, iNBrita.com – Chery Tiggo 8 CSH membuktikan kemampuan teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Mobil SUV keluarga tersebut menjalani pengujian perjalanan dari Jakarta menuju Semarang dengan jarak mencapai 452 kilometer (km).
Pengujian ini menjadi bagian dari Kompas Otomotif Challenge (KOC). Tantangannya cukup menarik. Tiggo 8 CSH harus menempuh perjalanan sekitar 450 km tanpa menghabiskan BBM lebih dari 5 liter.
Selain itu, pengemudi tetap boleh mengisi daya baterai di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersedia di sejumlah rest area.
Baterai Tiggo 8 CSH Terisi 97 Persen
Perjalanan dimulai dari Menara Kompas, Palmerah, Jakarta Pusat.
Saat berangkat, baterai Tiggo 8 CSH berada di level 97 persen. Tangki BBM juga sudah terisi penuh menggunakan bensin RON 92.
Setelah mereset trip meter, tim langsung mengarahkan mobil menuju Gerbang Tol Dalam Kota.
Mobil membawa dua orang dewasa serta barang dengan total bobot sekitar 235 kilogram. Kondisi lalu lintas pagi itu cukup ramai karena bertepatan dengan jam kerja.
Namun, arus kendaraan masih berjalan lancar.
Tim kemudian memilih mode berkendara Eco dengan power mode EV+. Pilihan tersebut bertujuan memaksimalkan penggunaan energi dari baterai.
Mode EV+ membuat sistem mengutamakan tenaga listrik hingga kapasitas baterai turun ke level tertentu sebelum mesin bensin membantu menggerakkan kendaraan.
Kapasitas Baterai Capai 18,3 kWh
Chery membekali Tiggo 8 CSH dengan baterai berkapasitas 18,3 kWh.
Kapasitas tersebut lebih besar dibandingkan baterai yang umumnya digunakan mobil hybrid konvensional.
Dengan baterai tersebut, Tiggo 8 CSH secara teori mampu menempuh sekitar 90-100 km menggunakan tenaga listrik penuh.
Sementara itu, jarak tempuh gabungan antara tenaga listrik dan mesin bensin dapat mencapai sekitar 1.300 km.
Hasil pengujian awal bahkan menunjukkan kemampuan berkendara listrik yang cukup panjang.
Setelah menempuh sekitar 115 km hingga pemberhentian pertama di kawasan Cipali, mesin bensin belum bekerja sama sekali.
Indikator BBM juga belum menunjukkan adanya pengurangan.
Hasil tersebut tidak hanya berasal dari teknologi PHEV. Gaya berkendara juga ikut memengaruhi efisiensi.
Tim menerapkan pola eco driving, tetapi tetap mengikuti batas kecepatan di jalan tol.
Kecepatan kendaraan berada di kisaran 80-100 kilometer per jam. Pengemudi juga tetap menggunakan AC secara normal.
Pengisian Daya Pertama Habiskan Rp51.684
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, tim melakukan pengisian baterai di pemberhentian pertama.
Proses pengisian tersebut menghabiskan biaya Rp51.684.
Setelah baterai kembali penuh, perjalanan menuju pemberhentian berikutnya dilanjutkan.
Kondisi lalu lintas di sejumlah ruas Tol Cipali kemudian berubah. Penyempitan jalan akibat pekerjaan membuat arus kendaraan menjadi lebih padat.
Kemacetan tersebut membuat waktu perjalanan bertambah. Kondisi ini juga memengaruhi konsumsi energi baterai.
Saat kendaraan bergerak lancar, sistem bisa mendapatkan kembali energi melalui proses regenerasi ketika pengemudi melakukan deselerasi atau pengereman.
Namun, kemacetan membuat pola pergerakan kendaraan berubah.
Pengisian Kedua Hanya Rp44.758
Tim kembali mengisi daya di pemberhentian kedua.
Saat tiba, baterai masih berada di atas 24 persen. Karena itu, biaya pengisian kali ini lebih rendah, yakni Rp44.758.
Menariknya, mesin bensin masih belum memberikan tenaga untuk perjalanan.
Tim tetap menggunakan mode EV+ sebelum kemudian mencoba mode berkendara normal.
Setelah pengisian selesai, kendaraan melanjutkan perjalanan sejauh sekitar 135 km menuju pemberhentian terakhir.
Kecepatan kendaraan berada di kisaran 90-100 km per jam.
Mesin Bensin Mulai Bekerja Saat Baterai 12 Persen
Perjalanan berikutnya membuat persentase baterai turun lebih cepat.
Cuaca panas turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsumsi energi.
Saat baterai berada di level 12 persen dan jarak menuju rest area terakhir sekitar 10 km, sistem mulai mengaktifkan mesin bensin.
Pada titik tersebut, mesin bensin memberikan bantuan tenaga kepada roda.
Momen tersebut menjadi pertama kalinya BBM digunakan selama perjalanan Jakarta-Semarang.
Kondisi itu juga menunjukkan batas kerja baterai pada mode listrik EV+.
Sistem menjaga agar kapasitas baterai tidak turun terlalu rendah. Dalam pengujian tersebut, mesin bensin mulai membantu ketika baterai mendekati level 10 persen.
Strategi tersebut kemungkinan berkaitan dengan upaya menjaga kondisi baterai atau battery health.
Pengisian Ketiga Habiskan Rp46.517
Tim kemudian kembali mengisi baterai di rest area terakhir.
Pengisian kali ini membutuhkan biaya Rp46.517. Setelah selesai, kapasitas baterai kembali mencapai 93 persen.
Proses pengisian berlangsung sedikit lebih lama karena tim harus mengantre bersama pengguna kendaraan listrik lainnya.
Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Kota Semarang.
Chery Tiggo 8 CSH Tempuh 452 Km
Perjalanan akhirnya mencapai titik tujuan setelah tim melewati sejumlah kemacetan saat memasuki Semarang.
Berdasarkan informasi pada Multi Information Display (MID), Tiggo 8 CSH menempuh jarak total 452 km.
MID mencatat konsumsi listrik rata-rata sebesar 11,4 kWh per 100 km.
Sementara itu, rata-rata konsumsi energi yang ditampilkan mencapai 28,6 km per liter.
Data menarik juga terlihat pada konsumsi BBM dalam 50 km terakhir.
MID menunjukkan angka 999,9 km per liter. Angka tersebut menunjukkan bahwa sistem tidak mendeteksi penggunaan bensin dalam 50 km terakhir perjalanan.
MID Catat BBM Terpakai 0,8 Liter
Jika melihat data keseluruhan, MID mencatat penggunaan BBM hanya 0,8 liter.
Dengan kata lain, Tiggo 8 CSH mengonsumsi kurang dari 1 liter bensin selama perjalanan tersebut.
Penggunaan BBM kemungkinan terjadi ketika sistem mulai mengaktifkan mesin bensin saat baterai berada di level rendah.
Namun, tim juga melakukan pengukuran menggunakan metode full to full untuk mendapatkan gambaran konsumsi BBM secara aktual.
Hasilnya menunjukkan angka berbeda.
Tim membutuhkan sekitar 1,6 liter bensin RON 92 untuk mengembalikan kapasitas BBM ke posisi seperti sebelum perjalanan.
Angka tersebut memang lebih tinggi dibandingkan catatan MID yang hanya menunjukkan penggunaan 0,8 liter.
Mengapa Data MID dan Full to Full Berbeda?
Perbedaan hasil pengukuran tidak selalu menunjukkan adanya kesalahan pada kendaraan.
Beberapa faktor dapat memengaruhi hasil metode full to full.
Perbedaan panjang pipa pengisian, pembacaan sistem, hingga perubahan suhu saat melakukan pengisian dapat menghasilkan angka yang berbeda.
Karena itu, pengujian konsumsi BBM tidak selalu menghasilkan angka yang identik pada setiap kesempatan.
Tiga Kali Isi Daya Bantu Tekan Konsumsi BBM
Hasil perjalanan Jakarta-Semarang menunjukkan peran penting teknologi PHEV dalam mengurangi penggunaan BBM.
Tiggo 8 CSH mampu mengandalkan tenaga listrik dalam sebagian besar perjalanan.
Mesin bensin baru mulai membantu ketika kapasitas baterai turun ke level rendah.
Tim juga melakukan pengisian daya sebanyak tiga kali selama perjalanan. Strategi tersebut membuat mobil dapat kembali menggunakan tenaga listrik untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan jarak tempuh 452 km, konsumsi BBM aktual berdasarkan metode full to full tercatat sekitar 1,6 liter.
Sementara itu, MID mencatat penggunaan BBM sebesar 0,8 liter.
Perbedaan kedua angka tersebut menjadi bagian penting dari hasil pengujian. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil pengukuran konsumsi BBM dapat berbeda tergantung metode yang digunakan.
Gaya Berkendara Tetap Menentukan
Hasil pengujian Tiggo 8 CSH ini tidak bisa menjadi patokan mutlak untuk semua pengemudi.
Konsumsi energi setiap kendaraan dapat berubah sesuai kondisi penggunaan.
Kecepatan, akselerasi, deselerasi, kondisi lalu lintas, kontur jalan, penggunaan AC, jumlah muatan, hingga gaya berkendara dapat memengaruhi hasil akhir.
Teknologi PHEV memang membantu meningkatkan efisiensi. Namun, pengemudi tetap memegang peran penting dalam mengoptimalkan konsumsi energi.
Dengan pola berkendara yang efisien dan pemanfaatan baterai secara optimal, teknologi PHEV seperti yang digunakan Tiggo 8 CSH dapat membantu mengurangi penggunaan BBM dalam perjalanan jarak jauh.
(VVR*)









