Jakarta, iNBrita.com — Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) stagnan pada Sabtu, 9 Mei 2026 setelah sempat turun tipis sehari sebelumnya.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, Antam menetapkan harga emas hari ini di level Rp 2.839.000 per gram. Angka ini sama dengan harga pada perdagangan sebelumnya.
Antam juga mempertahankan harga buyback di posisi Rp 2.644.000 per gram. Harga buyback merupakan nilai yang digunakan saat konsumen menjual kembali emasnya ke Antam.
Sebelumnya, Antam mencetak rekor harga tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026, yakni Rp 3.168.000 per gram. Saat itu, harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.
Data harga ini berasal dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga informasinya akurat dan terpercaya.
Daftar Harga Emas Antam (9 Mei 2026)
Untuk pengambilan di Gedung Antam, perusahaan menetapkan harga sebagai berikut:
- 0,5 gram: Rp 1.469.500
- 1 gram: Rp 2.839.000
- 2 gram: Rp 5.628.000
- 3 gram: Rp 8.424.000
- 5 gram: Rp 14.010.000
- 10 gram: Rp 27.940.000
- 25 gram: Rp 69.685.000
- 50 gram: Rp 139.205.000
- 100 gram: Rp 278.260.000
- 250 gram: Rp 695.340.000
- 500 gram: Rp 1.390.400.000
- 1.000 gram: Rp 2.779.600.000
Harga Emas Dunia Naik
Harga emas dunia naik pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat merilis data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan.
Harga emas spot naik 0,8% menjadi USD 4.723,28 per ounce dan mencatat kenaikan mingguan sebesar 2,4%. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni naik 0,5% menjadi USD 4.733.
Data menunjukkan jumlah lapangan kerja di AS meningkat pada April, sedangkan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Kondisi ini mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja.
Di pasar logam lainnya:
- Harga perak naik 3,1% menjadi USD 80,88 per ounce
- Platinum naik 0,2% menjadi USD 2.026,80
- Palladium turun 0,3% menjadi USD 1.476,18
Direktur High Ridge Futures, David Meger, menilai pasar tidak bereaksi seperti biasanya. Ia menyebut data tenaga kerja yang kuat biasanya menekan emas, tetapi kondisi itu tidak terjadi kali ini.
Sentimen Pasar Emas
Meger menjelaskan bahwa pasar saat ini memperlakukan emas seperti aset berisiko, bukan sekadar aset safe haven.
Ia menilai rebound harga emas dipicu oleh harapan meredanya konflik Iran. Penurunan harga energi juga membuka peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed).
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga tahun ini turun menjadi sekitar 14%, dari sebelumnya 22%.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan Iran masih terjadi di Teluk Persia. Namun, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tetap berlaku.
Sementara itu, permintaan emas di India melemah karena harga yang tinggi membuat pembeli menunda transaksi. Sebaliknya, permintaan di China tetap stabil karena investor masih mencari aset safe haven.
(VVR*)









