Sungai Penuh, iNBrita.com – Musim panen kentang di Kabupaten Kerinci membuat para petani menghadapi tekanan besar. Alih-alih meraup keuntungan, banyak petani kini merugi karena harga jual kentang di tingkat petani menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Petani kini menjual kentang hanya sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan beberapa bulan lalu, saat pedagang masih membeli kentang dengan harga Rp8.000 hingga Rp15.000 per kilogram, tergantung jenis dan ukuran. Penurunan harga ini membuat pendapatan petani menipis, sementara mereka tetap harus membayar biaya produksi, termasuk bibit, pupuk, dan tenaga kerja.
Ando, seorang petani kentang di Kerinci, menjelaskan bahwa terus menurun selama lima bulan terakhir. Ia menuturkan bahwa hasil penjualan saat ini bahkan tidak menutupi modal yang dikeluarkan.
“Lima bulan terakhir harga terus turun. Sekarang hasil penjualan tidak menutup biaya produksi,” kata Ando. Kondisi ini mendorong beberapa petani mempertimbangkan mengurangi lahan tanam kentang pada musim berikutnya karena risiko kerugian terlalu besar jika harga tetap rendah.
Petani menilai penurunan harga terjadi karena produksi kentang melimpah saat masa panen raya. Lonjakan pasokan membuat pedagang menekan harga di tingkat petani, sementara permintaan tidak bertambah sebanding dengan ketersediaan.
Petani berharap pemerintah daerah segera menstabilkan harga kentang. Mereka mengusulkan pemerintah membeli hasil panen langsung, memperluas akses pasar ke wilayah baru, atau menyediakan subsidi dan fasilitas penyimpanan. Dengan langkah tersebut, pemerintah dapat membantu menjaga harga tetap wajar dan memastikan pendapatan petani lebih stabil.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tingginya produksi tanpa mekanisme penyerapan pasar yang baik dapat menekan ekonomi petani, meskipun panen melimpah. Para petani kini mengandalkan intervensi pemerintah untuk mengembalikan keseimbangan antara pasokan dan harga di pasar.
(*)











