Jakarta, iNBrita.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Indeks saham Indonesia melonjak 5,65 persen atau 282,27 poin hingga mencapai level 5.278,88.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business menunjukkan bahwa mayoritas saham menguat pada perdagangan hari ini. Sebanyak 670 saham mencatat kenaikan harga, sedangkan 99 saham melemah dan 20 saham lainnya stagnan.
Investor memperdagangkan 56,61 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 26,31 triliun.
Penguatan ini terjadi setelah pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual tajam akibat pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sebelumnya, MSCI membuka konsultasi publik mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Daftar Saham Top Gainers dan Top Losers LQ45
Sejumlah saham dalam indeks LQ45 mencatat kenaikan harga tertinggi. Namun, beberapa saham lainnya justru mengalami penurunan pada perdagangan Selasa.
Top Gainers LQ45
Berikut tiga saham dengan kenaikan harga tertinggi dalam indeks LQ45:
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 20,08 persen ke Rp 1.435 per saham.
- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) naik 19,51 persen ke Rp 1.225 per saham.
- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melonjak 19,28 persen ke Rp 990 per saham.
Top Losers LQ45
Sementara itu, tiga saham berikut mencatat penurunan harga terbesar dalam indeks LQ45:
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) turun 2,65 persen ke Rp 2.200 per saham.
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melemah 1,70 persen ke Rp 5.775 per saham.
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terkoreksi 1,15 persen ke Rp 344 per saham.
Analis Ungkap Penyebab IHSG Melonjak
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai aksi beli setelah penurunan harga saham menjadi faktor utama yang mendorong IHSG menguat lebih dari 5 persen.
Menurut Nafan, pasar mengalami tekanan jual sangat tajam selama dua hari perdagangan akibat sentimen negatif dari MSCI. Kondisi tersebut kemudian membuka peluang bagi investor untuk membeli saham pada harga yang lebih rendah.
Nafan menjelaskan tiga faktor utama yang mendorong penguatan IHSG.
Pertama, BEI menyiapkan langkah untuk meningkatkan transparansi pasar. Bursa berencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks. Investor menilai langkah tersebut sebagai upaya awal untuk meningkatkan transparansi dan daya tarik investasi pasar modal Indonesia.
Kedua, investor memanfaatkan penurunan harga untuk mengakumulasi saham. Strategi buy on weakness mendorong pelaku pasar membeli saham ketika harganya melemah. Investor terutama memburu saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami tekanan jual.
Ketiga, regulator berupaya menjaga stabilitas pasar. Langkah tersebut membantu meredakan kepanikan investor dan memperbaiki sentimen perdagangan dalam jangka pendek.
Meski demikian, Nafan mengingatkan investor agar tidak langsung menganggap penguatan IHSG sebagai bukti pulihnya kepercayaan pasar.
“Namun, lonjakan ini belum dapat diartikan bahwa kepercayaan investor telah pulih sepenuhnya,” kata Nafan kepada Tribunnews.com.
Ia menegaskan bahwa pasar masih membutuhkan sejumlah indikator untuk memastikan keberlanjutan pemulihan. Indikator tersebut mencakup arus masuk dana investasi, penurunan tekanan jual investor asing, serta pelaksanaan reformasi tata kelola dan transparansi pasar modal secara konsisten.
Karena itu, Nafan memandang penguatan IHSG saat ini sebagai pemulihan teknikal yang mendapat dukungan dari respons kebijakan regulator. Menurutnya, pasar masih membutuhkan waktu dan bukti nyata untuk memulihkan kepercayaan investor secara fundamental.
OJK Pilih Fokus Bekerja di Tengah Spekulasi Kepentingan Asing
Di tengah perdebatan mengenai gejolak pasar saham, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, memilih fokus menjalankan tugas regulator.
Friderica menyampaikan sikap tersebut saat menghadiri kegiatan di Hotel Grand Mercure Jakarta Pusat pada Selasa (20/10/2026). Ia tidak ingin menanggapi spekulasi mengenai penyebab kejatuhan pasar saham Indonesia pada Jumat (16/10/2026).
“Kita kerja saja, silahkan orang lain mengomentari, silahkan orang berpikir sendiri, tapi kita kerja saja, kita kerja saja,” kata Friderica, yang akrab disapa Kiki.
Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan pada era Presiden Joko Widodo, Muhammad Lutfi, menyoroti ancaman perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Melalui video yang ia unggah di akun Instagram, Lutfi mempertanyakan alasan MSCI mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Ia juga menduga adanya kepentingan investor asing di balik tekanan terhadap pasar saham Indonesia. Namun, dugaan tersebut merupakan pandangan Lutfi dan belum menjadi fakta yang terverifikasi.
Muhammad Lutfi Pertanyakan Ancaman Penurunan Status Pasar Indonesia
Lutfi menilai pelaku pasar perlu mencermati rencana MSCI secara kritis. Ia mempertanyakan dasar pertimbangan lembaga indeks global tersebut karena Indonesia tidak menerapkan kebijakan kontrol modal atau capital control.
“Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak,” ujar Lutfi.
Sebagai informasi, MSCI menggunakan klasifikasi pasar untuk mengelompokkan negara berdasarkan karakteristik pasar modalnya. Investor global juga menjadikan klasifikasi tersebut sebagai salah satu acuan dalam menentukan alokasi investasi.
Lutfi turut menyinggung peran Singapura, termasuk perusahaan investasi negara tersebut, Temasek dan GIC, dalam ekosistem investasi global. Ia menduga terdapat kepentingan tertentu yang berkaitan dengan tekanan terhadap pasar modal Indonesia.
Selain itu, Lutfi mengklaim menerima informasi mengenai dugaan tekanan terhadap MSCI agar lembaga tersebut menurunkan klasifikasi pasar Indonesia. Namun, ia tidak menyajikan bukti terverifikasi dalam pernyataan yang dikutip di sini untuk membuktikan klaim tersebut.
Lutfi Soroti Arus Dana Asing dan Potensi Kepanikan Investor
Lutfi menyebut banyak investor institusi asing telah menarik dana dari pasar modal Indonesia. Meski demikian, menurutnya, keluarnya dana tersebut tidak serta-merta menyebabkan penurunan harga saham sebesar yang diperkirakan sebagian pelaku pasar.
Ia menilai kondisi itu dapat menimbulkan tantangan bagi investor yang ingin kembali membeli saham Indonesia setelah menjual kepemilikannya.
Lutfi menduga ancaman penurunan status pasar oleh MSCI dapat memicu kepanikan investor. Jika kepanikan tersebut mendorong harga saham turun tajam, investor yang kembali masuk berpotensi membeli aset Indonesia dengan harga lebih murah.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh spekulasi yang belum terbukti.
“Jadi, bagaimana caranya supaya mereka bisa masuk lagi? Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu, mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon. Jadi, buat bangsa Indonesia, jangan mau kita diadu-adu. Dibuat minder oleh negara tetangga,” tegas Lutfi.
Penguatan IHSG Masih Membutuhkan Konfirmasi
Kenaikan IHSG sebesar 5,65 persen menunjukkan kuatnya aksi beli setelah tekanan jual dalam beberapa hari sebelumnya. Respons regulator, peluang akumulasi saham, dan perbaikan sentimen jangka pendek turut mendukung penguatan tersebut.
Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kebijakan MSCI, pergerakan dana asing, serta implementasi reformasi pasar modal Indonesia.
Pasalnya, kenaikan indeks dalam satu hari belum cukup untuk memastikan pemulihan kepercayaan investor secara menyeluruh.
(vvr*)









