Kurang Tidur Picu Gangguan Hormon dan Nafsu Makan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lapar melulu. Foto: iStock

Lapar melulu. Foto: iStock

Jakarta, iNBrita.com  – Banyak orang menganggap kurang tidur sebagai hal biasa, apalagi di tengah rutinitas padat dan kebiasaan bermain ponsel sebelum tidur. Namun di balik rasa lelah yang muncul keesokan harinya, tubuh sebenarnya sedang mengalami perubahan yang tidak sederhana. Kurang tidur dapat memicu gangguan pada sistem hormon, metabolisme, hingga cara tubuh mengatur rasa lapar.

Dampak Kurang Tidur pada Sistem Hormon

Saat durasi tidur berkurang, tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan proses pemulihan. Salah satu efek yang paling terlihat terjadi pada hormon insulin. Penurunan kualitas tidur membuat sensitivitas insulin melemah, sehingga tubuh kesulitan mengontrol kadar gula darah. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, risiko gangguan metabolik seperti diabetes bisa meningkat.

Selain itu, hormon stres atau kortisol juga ikut terdampak. Kadar kortisol yang tinggi membuat tubuh berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memicu tekanan darah tinggi dan penumpukan lemak, terutama di area perut.

Kurang tidur juga memengaruhi keseimbangan hormon ghrelin dan leptin, yang berperan dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Ghrelin akan meningkat sehingga memicu rasa lapar berlebih, sementara leptin menurun sehingga tubuh sulit merasa kenyang.

Menurut Juwalita Surapsari, kondisi ini membuat seseorang cenderung makan lebih banyak saat kurang tidur. Ia menekankan bahwa solusi utamanya bukan mengurangi makan secara drastis, melainkan mengembalikan pola tidur dan menjaga keseimbangan nutrisi.

Kurang Tidur dan Pola Makan

Perubahan hormon akibat kurang tidur sering kali berdampak langsung pada kebiasaan makan. Seseorang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi kalori, gula, dan lemak. Hal ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi respons biologis tubuh yang mencoba mencari energi tambahan.

Akibatnya, berat badan bisa meningkat tanpa disadari. Jika tidak dikontrol, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.

Cara Memperbaiki Pola Tidur (Sleep Hygiene)

Untuk mengurangi dampak negatif kurang tidur, memperbaiki kebiasaan tidur menjadi langkah penting. Beberapa perubahan sederhana bisa membantu tubuh kembali ke ritme normal:

Pertama, hindari aktivitas yang merangsang otak sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar ponsel atau televisi dapat menghambat produksi hormon melatonin yang membantu tubuh tidur.

Kedua, gunakan tempat tidur hanya untuk beristirahat. Kebiasaan bekerja atau bermain gadget di tempat tidur dapat membuat otak sulit membedakan waktu tidur dan waktu aktif.

Ketiga, tetapkan jadwal tidur yang konsisten setiap hari. Rutinitas ini membantu tubuh mengenali waktu istirahat secara alami.

Keempat, batasi konsumsi kafein. Idealnya, kafein dihentikan 6–8 jam sebelum waktu tidur agar tidak mengganggu proses tidur.

Kelima, hindari makan berat menjelang tidur. Tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan, sehingga makan terlalu dekat dengan waktu tidur bisa mengganggu kualitas istirahat.

Terakhir, pastikan durasi tidur terpenuhi. Orang dewasa umumnya membutuhkan 7–9 jam tidur setiap malam agar fungsi tubuh tetap optimal.

Kunci Menjaga Keseimbangan Tubuh

Memperbaiki pola tidur bukan sekadar menghilangkan rasa kantuk, tetapi juga menjaga keseimbangan sistem tubuh secara menyeluruh. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, hormon dapat kembali stabil, metabolisme berjalan optimal, dan risiko berbagai penyakit bisa ditekan.Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Benarkah Telur Menyebabkan Bisul? Ini Penjelasannya
Ingin Tidur Nyenyak? Hindari Tujuh Makanan Ini
Bahaya Scrolling Ponsel Sebelum Tidur bagi Kesehatan Otak
Asam Urat Tinggi? Coba Konsumsi Buah Ini
Lima Kebiasaan yang Memicu Penumpukan Kalsium pada Jantung
Penderita GERD Tetap Bisa Diet, Begini Pola Makannya
Karang Gigi Sulit Hilang, Ini Alasan dan Solusinya
Gejala ISPA Akibat Kabut Asap yang Wajib Diwaspadai
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 01:00 WIB

Benarkah Telur Menyebabkan Bisul? Ini Penjelasannya

Minggu, 20 September 2026 - 22:00 WIB

Ingin Tidur Nyenyak? Hindari Tujuh Makanan Ini

Jumat, 18 September 2026 - 04:00 WIB

Bahaya Scrolling Ponsel Sebelum Tidur bagi Kesehatan Otak

Sabtu, 12 September 2026 - 12:00 WIB

Asam Urat Tinggi? Coba Konsumsi Buah Ini

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Lima Kebiasaan yang Memicu Penumpukan Kalsium pada Jantung

Berita Terbaru

Guru PPPK penuh waktu berpeluang beralih menjadi PNS mulai Januari 2027 melalui tes kompetensi.(Foto : Ilustrasi. Foto: Ricardo/JPNN.com)

Nasional

Guru PPPK Jadi PNS 2027, Siap Ikuti Tes

Selasa, 22 Sep 2026 - 09:00 WIB

Dianda Putra memimpin apel Senin ASN di lingkungan Pemerintah Kota Sungai Penuh, Senin (21/9/2026).

SUNGAI PENUH

Dianda Putra Pimpin Apel, Dorong Kinerja ASN

Senin, 21 Sep 2026 - 15:00 WIB

Harga emas Antam turun pada perdagangan Senin (21/9).(FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).

Ekonomi

Harga Emas Antam Turun, Cek Daftar Lengkap Hari Ini

Senin, 21 Sep 2026 - 12:00 WIB

Harga BBM Pertamina terbaru untuk Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada September 2026. (Foto: Pertamina Patra Niaga/okezone.com)

Ekonomi

Harga BBM Pertamina Hari Ini, Cek Daftarnya

Senin, 21 Sep 2026 - 11:00 WIB