Jakarta, iNBrita.com — Foto Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menggunakan selang oksigen di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, ramai beredar di media sosial. Sejumlah unggahan mengaitkan foto tersebut dengan dugaan sesak napas akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membantah narasi tersebut. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa Budi mencoba fasilitas oksigen ketika mengunjungi layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak kabut asap pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Aji menyampaikan klarifikasi pada Minggu, 25 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa Menkes tidak mengalami gangguan pernapasan selama kunjungan kerja tersebut.
Kegiatan itu bertujuan memperkenalkan fasilitas bantuan kesehatan sekaligus memeriksa kesiapan layanan bagi warga yang menghadapi dampak polusi udara.
Kronologi Foto Menkes Menggunakan Selang Oksigen
Perhatian publik bermula ketika foto Budi duduk sambil menggunakan selang oksigen menyebar di berbagai platform media sosial. Sejumlah pengguna mengaitkan gambar tersebut dengan buruknya kualitas udara di Kalimantan Tengah.
Beberapa unggahan bahkan menyebut Budi tidak mampu bertahan menghadapi kabut asap meskipun baru sebentar berada di wilayah tersebut. Narasi itu kemudian memunculkan dugaan bahwa ia mengalami sesak napas saat meninjau lokasi terdampak karhutla.
Budi Tunjukkan Kegiatan di Rumah Oksigen MDMC
Budi memberikan penjelasan melalui akun Instagram pribadinya, @bgsadikin. Ia membagikan video kunjungan ke Rumah Oksigen milik Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Palangka Raya.
Dalam rekaman tersebut, Budi mencoba layanan oksigen yang tersedia bagi masyarakat. Ia mengaku merasa lebih segar setelah menggunakan fasilitas itu dan menyebut hasil pengukuran saturasi oksigennya meningkat.
“Saya sendiri coba, jauh lebih enak seger saturasi oksigen saya naik,” kata Budi dalam video tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan memperkenalkan layanan yang dapat membantu warga menghadapi gangguan kesehatan akibat kabut asap.
Kemenkes Bantah Klaim Menkes Mengalami Sesak Napas
Aji menegaskan bahwa Budi tidak membutuhkan pertolongan darurat ketika mencoba fasilitas oksigen di Palangka Raya.
“Menkes sama sekali tidak merasa sesak napas pada saat itu,” kata Aji sebagaimana dilaporkan ANTARA pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Penjelasan tersebut meluruskan narasi yang menghubungkan penggunaan oksigen dengan dugaan gangguan pernapasan. Kemenkes menyatakan bahwa Budi mencoba fasilitas itu dalam rangkaian peninjauan layanan kesehatan, bukan untuk mengatasi kondisi darurat yang dialaminya.
Selain Rumah Oksigen MDMC, rombongan Menkes juga meninjau layanan oksigen bergerak milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Menkes Periksa Puskesmas dan Rumah Sakit di Palangka Raya
Budi mengunjungi sejumlah fasilitas kesehatan untuk mengevaluasi kesiapan tenaga medis, obat-obatan, dan peralatan dalam menghadapi dampak kabut asap.
Bersama Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran dan jajaran pemerintah daerah, ia mendatangi Puskesmas Menteng, Puskesmas Panarung, RSUD dr. Doris Sylvanus, Rumah Oksigen di kawasan Ruang Terbuka Hijau Bundaran Besar, serta Rumah Oksigen MDMC.
RSUD dr. Doris Sylvanus Hadapi Peningkatan Pasien
Dalam laporan Kemenkes tertanggal 23 Oktober 2026, RSUD dr. Doris Sylvanus menyampaikan peningkatan jumlah pasien hingga tiga kali lipat.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk memastikan rumah sakit memiliki tenaga medis, peralatan, dan kapasitas pelayanan yang memadai. Puskesmas juga memegang peran penting karena masyarakat dapat mengakses pemeriksaan awal di fasilitas tersebut.
Budi mengingatkan warga agar tidak mengabaikan keluhan pernapasan. Masyarakat yang mengalami sesak napas perlu segera mencari pertolongan medis agar tenaga kesehatan dapat menilai kondisi dan menentukan penanganan yang sesuai.
Pemprov Kalimantan Tengah Alihkan Empat Bus Menjadi Layanan Oksigen
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengalihfungsikan empat bus untuk menyediakan layanan oksigen gratis bagi masyarakat terdampak kabut asap. Sebelumnya, pemerintah daerah menggunakan kendaraan tersebut untuk mendukung kegiatan sektor pendidikan.
Melalui layanan bergerak ini, pemerintah berupaya mendekatkan fasilitas kesehatan kepada warga yang membutuhkan bantuan. Pemerintah daerah juga menyediakan Rumah Oksigen di beberapa titik di Palangka Raya.
Pengelola melengkapi fasilitas tersebut dengan tabung oksigen, oxygen concentrator, tempat tidur pasien, dan tenaga kesehatan.
Meski membantu akses pelayanan, fasilitas oksigen tetap tidak menggantikan pemeriksaan medis. Tenaga kesehatan perlu menilai kondisi setiap pasien sebelum memberikan oksigen.
Daftar Bantuan Kesehatan untuk Penanganan Karhutla
Pemerintah menyiapkan berbagai perlengkapan medis untuk mendukung penanganan dampak kabut asap di Kalimantan Tengah. Laporan pemerintah daerah pada 23 Oktober 2026 mencantumkan sejumlah bantuan berikut.
| Jenis bantuan | Jumlah |
|---|---|
| Masker KN95 | 137.000 buah |
| Masker bedah | 500.000 buah |
| Oxygen concentrator | 50 unit |
| Nebulizer | 35 unit |
| Tabung oksigen | 100 unit |
| Air purifier | 37 unit |
| Multivitamin sirup | 270 botol |
| Multivitamin tablet | 800 strip |
Selain bantuan tersebut, Kemenkes mendistribusikan masker ke berbagai daerah yang terdampak karhutla. Hingga 23 Oktober 2026, pemerintah pusat telah menyalurkan 1.210.230 masker, terdiri atas 1.001.680 masker medis tiga lapis dan 208.550 masker KN95/N95.
Angka itu mencakup distribusi lintas daerah sehingga tidak menggambarkan jumlah bantuan yang khusus dialokasikan untuk Kalimantan Tengah.
Kemenkes juga berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan, oksigen, dan perlengkapan medis lainnya.
Kemenkes Imbau Warga Membatasi Paparan Kabut Asap
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan polusi ini berisiko memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan dan orang yang memiliki penyakit tertentu.
Kemenkes menganjurkan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan masalah kesehatan perlu mendapat perhatian khusus.
Jika harus keluar rumah, warga sebaiknya menggunakan masker KN95 atau N95 yang sesuai dan terpasang rapat. Masyarakat juga perlu mengurangi durasi kegiatan di luar ruangan untuk menekan paparan partikel polusi.
Kenali Gejala Gangguan Pernapasan
Batuk, iritasi mata, dan keluhan pernapasan dapat muncul setelah seseorang terpapar kabut asap. Warga perlu segera mengunjungi puskesmas apabila mengalami gejala yang mengganggu, terutama ketika keluhan terus memburuk.
Jika seseorang mengalami sesak napas, tenaga medis perlu memeriksa kondisinya dan menentukan penanganan yang tepat. Pasien dengan gangguan berat mungkin memerlukan perawatan lanjutan di rumah sakit.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa oksigen bukan pengganti pemeriksaan medis. Tenaga kesehatan harus menilai kebutuhan pasien sebelum memberikan bantuan tersebut.
Klarifikasi Foto Menkes di Tengah Kabut Asap Karhutla
Foto Budi Gunadi Sadikin menggunakan selang oksigen di Palangka Raya memicu beragam dugaan karena beredar bersama narasi mengenai kondisi kesehatannya. Namun, Kemenkes menjelaskan bahwa ia mencoba fasilitas oksigen ketika meninjau layanan bagi masyarakat terdampak kabut asap.
Kunjungan pada 23 Oktober 2026 itu juga mencakup pemeriksaan puskesmas, rumah sakit, Rumah Oksigen MDMC, dan bus layanan oksigen milik pemerintah daerah.
Klarifikasi tersebut menegaskan perbedaan antara kegiatan demonstrasi fasilitas kesehatan dan penanganan pasien yang mengalami gangguan pernapasan. Kemenkes mengimbau masyarakat memeriksa konteks informasi sebelum menyebarkan klaim di media sosial.
Di tengah kondisi kabut asap, pemerintah tetap mendorong warga mengurangi paparan polusi dan segera mencari bantuan medis ketika mengalami keluhan pernapasan.
(eny)









