Moscow, iNBrita.com — Presiden Rusia Vladimir Putin menerima Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dalam sebuah pertemuan resmi di Kremlin, Moskow. Pertemuan ini berlangsung pada saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran agar bersedia menyepakati pembatasan program nuklirnya.
Melalui pernyataan resmi di situs Kremlin, pemerintah Rusia menyampaikan bahwa Putin secara langsung menyambut Larijani yang tengah melakukan kunjungan ke Rusia. Pertemuan tersebut menegaskan intensitas komunikasi tingkat tinggi antara Moskow dan Teheran di tengah dinamika politik global yang semakin tegang.
Di waktu yang hampir bersamaan, Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan nuklir baru. Trump menilai Teheran berupaya menghindari kemungkinan aksi militer dari Amerika Serikat. Namun, ia juga kembali melontarkan ancaman akan melakukan serangan terhadap Iran jika negosiasi tidak menghasilkan kemajuan.
Ancaman itu muncul setelah Iran melakukan tindakan keras terhadap demonstrasi besar di dalam negeri. Sejumlah pengamat internasional melaporkan bahwa operasi keamanan tersebut menewaskan ribuan orang, sehingga memicu kecaman luas dari komunitas global.
Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di Moskow mengonfirmasi agenda pembicaraan antara Putin dan Larijani melalui unggahan di media sosial. Kedutaan menyebut kedua pihak membahas penguatan kerja sama ekonomi serta berbagai isu regional dan internasional yang dianggap strategis. Meski demikian, pihak Iran tidak memaparkan rincian lebih lanjut mengenai hasil konkret pertemuan tersebut.
Rusia secara aktif menawarkan diri sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Moskow menilai peran tersebut penting untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Selama perang di Ukraina, Iran tampil sebagai salah satu sekutu utama Rusia. Teheran memberikan dukungan yang signifikan, sementara Rusia membalasnya dengan dukungan politik dan diplomatik yang kuat di panggung internasional. Hubungan erat ini semakin menegaskan posisi strategis kedua negara dalam menghadapi tekanan dari Barat.
(Tim*)














