Jakarta, iNBrita.com — Rayakan Boxing Day setiap 26 Desember, sehari setelah Natal, sebagai momen berbagi dengan orang lain, terutama yang membutuhkan. Orang-orang di Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru merayakannya dengan memberi hadiah atau bantuan. Di Amerika Serikat, istilah ini jarang dipakai, dan di Eropa Barat, 26 Desember lebih dikenal sebagai hari kedua Natal.
Tradisi Boxing Day muncul dari kebiasaan memberi Christmas boxes, yaitu bingkisan berupa uang atau hadiah untuk pekerja jasa seperti pelayan, tukang pos, dan pekerja rumah tangga. Praktik ini menunjukkan rasa terima kasih atas kerja keras mereka sepanjang tahun. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa tradisi ini lahir di gereja-gereja Abad Pertengahan. Jemaat mengumpulkan sumbangan dalam kotak amal untuk kaum miskin dan membuka kotak tersebut setelah Natal. Kebiasaan ini juga terkait dengan peringatan Santo Stefanus pada 26 Desember. Ada teori lain yang mengatakan tradisi ini sudah ada sejak akhir Kekaisaran Romawi.
Pada era Victoria, istilah Boxing Day mulai populer. Pemerintah Inggris menetapkan Hari Santo Stefanus sebagai hari libur bank pada 1871. Majikan memberi Christmas boxes kepada pekerja, sementara pekerja rumah tangga mendapat waktu libur. Masyarakat umum juga memberi hadiah kecil atau uang kepada pekerja jasa dan pedagang, sehingga semangat berbagi menyebar luas.
Seiring waktu, tradisi memberi Christmas boxes mulai berkurang karena hubungan kerja yang lebih formal dan anonim. Meski begitu, Boxing Day tetap mengingatkan kita untuk menghargai jasa orang lain dan menebar kebaikan. Semangat berbagi ini membuat suasana Natal terasa lebih hangat dan hidup, tidak hanya di satu hari, tetapi berlanjut pada hari berikutnya.
(eni)














