Jakarta, iNBrita.com — Sederet rumah beratap warna-warni di El Alto, Bolivia, menjadi pusat perhatian,karena lokasinya berada di tepi jurang, beberapa inci dari jurang terjal yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Warga pun menjuluki bangunan tersebut sebagai ‘rumah bunuh diri’ karena risikonya sangat tinggi. Para ahli dan pejabat kota menegaskan tebing itu terus terkikis, sehingga rumah-rumah semakin berbahaya.
“Jurang di lembah ini 90 derajat,” kata Gabriel Pari, sekretaris kota bidang air, sanitasi, lingkungan, dan risiko, dikutip dari Reuters (15/8/2025).
Rumah-rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Bangunan tersebut menjadi lokasi para dukun Aymara atau yatiri melakukan ritual. Mereka memberikan persembahan untuk Pachamama atau Ibu Pertiwi di tepi jurang.
Namun, curah hujan tinggi dan dampak pemanasan global terus menggerogoti fondasi bangunan. “Itulah sebabnya kami ingin mereka meninggalkan tempat ini. Jika mereka tidak mau pergi, kami akan menggunakan kekerasan,” ujar Gabriel Pari.
Meski mendapat peringatan, para dukun menolak pindah. Mereka memilih tetap tinggal karena tempat itu menjadi pusat kerja sehari-hari.
“Kami tidak akan pindah dari tempat ini karena ini adalah tempat kerja kami,” tegas Manuel Mamani, seorang yatiri.
Para yatiri berusaha menjaga tanah agar tidak longsor dengan mengalihkan aliran air hujan ke arah lain. Bahkan, sebagian percaya ritual bisa melindungi mereka.
“Kami melakukan persembahan kepada Pachamama. Dengan cara ini, tanah tidak akan bergeser karena Ibu Pertiwi membutuhkan persembahan,” jelas Gabriel Lopez Chiva. (***)














