Jakarta, iNBrita.com – Kasus flu di New York, Amerika Serikat, melonjak tajam dalam satu minggu terakhir dan membuat banyak rumah sakit kewalahan menangani pasien rawat inap.
Pejabat kesehatan mencatat 71.123 kasus baru selama periode 14–20 Desember 2025. Jumlah tersebut meningkat 38 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Lonjakan kasus ini turut meningkatkan angka rawat inap akibat flu hingga 63 persen di seluruh negara bagian. Pada minggu sebelumnya, rumah sakit merawat 2.251 pasien. Angka tersebut kemudian naik menjadi 3.666 pasien.
Para ahli mengaitkan lonjakan kasus ini dengan kemunculan varian flu terbaru, subklade K, yang berasal dari virus influenza A H3N2. Varian tersebut mendominasi musim flu dan memicu lebih dari setengah kasus flu di Amerika Serikat hingga pertengahan November.
“Musim flu kali ini sangat serius. Kami menangani jauh lebih banyak kasus daripada yang kami perkirakan untuk periode ini,” ujar Dr. Amanda Kravitz, dokter anak di Weill Cornell Medicine, New York, kepada CBS Mornings.
Virus H3N2 kerap memicu gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi pernapasan biasa.
Gejala ‘Super Flu’
Dokter membedakan ‘super flu’ dari flu biasa berdasarkan tingkat keparahan gejala dan lamanya masa pemulihan. Banyak pasien merasakan kondisi yang jauh lebih berat dibandingkan influenza pada umumnya.
Para ahli menegaskan pentingnya penanganan sejak dini karena jumlah kasus terus meningkat dan risiko komplikasi tergolong tinggi.
Mengutip Newsweek, pasien ‘super flu’ umumnya mengalami gejala sebagai berikut:
Demam tinggi
Nyeri tubuh hebat
Kelelahan ekstrem
Batuk berkepanjangan
Sakit tenggorokan
Sakit kepala berat
Sesak napas
Nyeri dada
Gangguan pencernaan
Rasa lemas berkepanjangan setelah fase akut berakhir
(Tim*)














