Jakarta – Sumbatan usus atau ileus obstruksi terjadi ketika usus mengalami hambatan sehingga cairan dan kotoran tidak bisa keluar melalui anus. Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan keadaan darurat medis.
“Ini memang situasi gawat darurat yang harus segera mendapat penanganan. Jika terlambat, usus bisa mengalami perforasi, pecah, bocor, atau terinfeksi secara luas hingga sulit diatasi,” jelas Prof Ari saat dihubungi detikcom, Minggu (3/11/2025).
Prof Ari menambahkan bahwa pola makan dapat memengaruhi risiko terjadinya sumbatan usus. Ia menegaskan bahwa diet tinggi lemak dan rendah serat bisa meningkatkan risiko konstipasi atau sembelit, yang kemudian dapat menimbulkan sumbatan usus dan bahkan kanker usus besar.
Menurut Prof Ari, makanan pedas bukan penyebab sumbatan usus, namun makanan yang mengandung banyak daging dapat berpengaruh.
“Contohnya seperti steak atau menu All You Can Eat (AYCE) yang banyak mengandung daging,” ujarnya.
Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, sependapat dengan Prof Ari. Ia menegaskan bahwa makanan pedas tidak menyebabkan sumbatan usus, tetapi pola makan seimbang sangat penting untuk mencegahnya.
“Komposisi makanan harus seimbang. Orang yang mengalami gangguan buang air besar sebaiknya memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat,” kata dr Aru.
Ia juga mengingatkan pentingnya cukup minum air putih dan rutin berolahraga untuk menjaga kesehatan pencernaan.
Sumbatan usus sering kali menimbulkan gejala yang tidak jelas dan sering diabaikan. Karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda-tandanya agar bisa segera mendapat pertolongan medis.
Berikut gejala yang perlu diwaspadai:
Perut terasa kembung atau begah
Mual dan muntah
Nyeri perut hebat
Sulit buang air besar
Diare
Sulit buang angin (kentut)
Perut terasa keras
(VVR*)














