Jakarta, iNBrita.com — Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesiapannya untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan ini bertujuan membahas rencana perdamaian 20 poin yang dirancang untuk mengakhiri perang hampir empat tahun antara kedua negara.
Fokus Isu Sensitif
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyampaikan hal ini dalam wawancara dengan European Pravda pada Selasa (28/1/2026). Ia menegaskan Ukraina ingin menandatangani rencana perdamaian yang telah dibahas sejak November, jika kesepakatan tercapai. Dua isu sensitif tetap belum terselesaikan: persoalan wilayah dan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia. “Presiden siap membahas isu-isu ini langsung dengan Putin,” kata Sybiha.
Jalur Perundingan Resmi
Sybiha menambahkan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov tidak mendesak. Ukraina sudah memiliki tim perunding resmi dari Kementerian Luar Negeri dan menilai jalur tambahan tidak perlu.
Perundingan Trilateral dan Bilateral
Pekan lalu, Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat menggelar perundingan di Abu Dhabi. Sybiha menyebut pertemuan itu memajukan upaya mengakhiri konflik. Ia menegaskan pembicaraan bilateral juga berlangsung fokus dan kompleks. Kedua pihak membuka jalur negosiasi terpisah untuk membahas gencatan senjata, termasuk mekanisme pemantauan dan verifikasi penghentian permusuhan.
Struktur Kesepakatan 20 Poin
Sybiha menjelaskan dokumen 20 poin adalah kesepakatan bilateral antara Amerika Serikat dan Ukraina, sedangkan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan terpisah dengan Rusia. “Negosiasi masih berjalan. Ini adalah proses,” ujarnya.
Jadwal Pertemuan Lanjutan
Zelenskyy menyampaikan delegasi Ukraina dan Rusia melakukan pembahasan awal untuk pertemuan lanjutan yang diperkirakan berlangsung pada 1 Februari. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut putaran berikutnya dijadwalkan pekan depan di Abu Dhabi.
Evaluasi Perundingan
Rusia dan Ukraina menggelar konsultasi pada 23–24 Januari di Abu Dhabi. Kyiv dan Washington menilai perundingan konstruktif, sementara Peskov menyebut masih ada banyak pekerjaan besar. Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyatakan negosiasi telah mencapai kemajuan signifikan dan menyisakan satu isu terakhir.









