Jakarta, iNBrita.com – Gaya hidup cepat membuat banyak orang terbiasa makan sambil berdiri atau berjalan. Mereka memilih cara ini untuk menghemat waktu, misalnya sarapan di perjalanan atau makan cepat sebelum bekerja. Padahal, kebiasaan ini bisa mengganggu sistem pencernaan dan kesehatan tubuh.
Menurut Times of India, saat seseorang makan sambil berdiri, gravitasi mengarahkan lebih banyak darah ke kaki. Kondisi ini mengurangi aliran darah ke organ pencernaan. Akibatnya, perut bekerja kurang efisien dan lebih mudah menimbulkan gas, kembung, serta gangguan pencernaan.
Peneliti dari Canadian Science Publishing Journal menemukan bahwa posisi berdiri membuat makanan bergerak lebih cepat di lambung. Sebaliknya, saat duduk atau berbaring, proses pencernaan melambat. Mereka juga menjelaskan bahwa makan protein sambil duduk tegak membantu lambung mengosongkan isinya lebih baik, memperlancar pencernaan, dan meningkatkan penyerapan asam amino.
Orang yang makan sambil berdiri biasanya makan lebih cepat. Cara ini membuat mereka menelan lebih banyak udara dan tidak mengunyah makanan dengan baik. Akibatnya, lambung harus bekerja lebih keras untuk memecah makanan dan sering menimbulkan rasa begah atau kembung.
Sebaliknya, orang yang makan perlahan dan penuh kesadaran membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik serta menyerap zat gizi lebih optimal.
Riset dari European Journal of Preventive Cardiology menyebut berdiri selama enam jam bisa membakar sekitar 54 kalori lebih banyak dibanding duduk. Jika dilakukan secara rutin, kebiasaan ini dapat membantu menurunkan berat badan sedikit demi sedikit.
Namun, makan sambil berdiri juga bisa membuat seseorang cepat lapar. Lambung mengirim sinyal kenyang ke otak tergantung seberapa besar dan seberapa lama perut terisi. Karena tubuh mencerna makanan lebih cepat saat berdiri, terutama makanan tinggi karbohidrat olahan, rasa lapar muncul lebih cepat dan bisa membuat seseorang makan lebih banyak.
(VVR*)














