Jakarta , iNBrita.com – Masyarakat dapat menyaksikan fenomena bulan purnama yang dikenal sebagai pink moon pada malam Rabu hingga Kamis, 1–2 April 2026. Menurut Profesor Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, peristiwa ini menjadi salah satu momen menarik di awal April.
Selanjutnya, Thomas menjelaskan bahwa masyarakat bisa mulai mengamati bulan purnama ini sejak waktu maghrib hingga menjelang matahari terbit. Dengan demikian, masyarakat memiliki waktu yang cukup panjang untuk menikmati fenomena tersebut. Selain itu, masyarakat dapat mengamati langsung tanpa alat bantu maupun menggunakan teleskop dan kamera agar mendapatkan hasil yang lebih jelas.
Di sisi lain, Thomas juga menegaskan bahwa fenomena ini tidak menimbulkan bahaya. Artinya, masyarakat tidak perlu khawatir saat mengamatinya. Namun demikian, fenomena ini tetap memicu peningkatan pasang air laut karena Bulan dan Matahari berada hampir segaris dengan Bumi, sebagaimana yang biasa terjadi saat purnama.
Sementara itu, Thomas meluruskan pemahaman tentang istilah pink moon. Ia menegaskan bahwa bulan tidak berubah menjadi berwarna merah muda. Sebaliknya, masyarakat hanya menggunakan istilah tersebut sebagai penamaan populer dari Amerika Serikat untuk purnama yang terjadi pada bulan April. Dengan kata lain, bulan tetap tampak putih kekuningan seperti biasanya.
Berdasarkan informasi dari situs astronomi Time and Date, masyarakat dapat menikmati momen terbaik untuk menyaksikan fenomena ini sesaat setelah bulan terbit, yaitu sekitar waktu maghrib. Pada saat itu, posisi bulan yang masih rendah di dekat cakrawala menciptakan ilusi optik. Akibatnya, bulan tampak lebih besar dan memancarkan cahaya keemasan akibat pengaruh atmosfer.
Oleh karena itu, fenomena ini memberikan kesempatan menarik bagi masyarakat untuk menikmati keindahan langit malam. Tidak hanya itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan momen ini sebagai sarana belajar untuk mengenal fenomena astronomi yang sebenarnya rutin terjadi setiap tahun.
(eny)














