Shanx, iNBrita.com — Ledakan besar mengguncang tambang batu bara Liushenyu di Provinsi Shanxi, China, pada Jumat malam (22/5/2026). menewaskan sedikitnya 90 pekerja. Tragedi itu sekaligus menjadi kecelakaan tambang paling mematikan di China dalam 17 tahun terakhir.
Kantor berita Xinhua melaporkan, seperti dikutip AFP, Sabtu (23/5/2026), sebanyak 247 pekerja berada di area tambang saat ledakan terjadi, dan petugas penyelamat berhasil mengevakuasi 201 pekerja ke permukaan.
Petugas terus mencari korban dengan melibatkan ratusan personel darurat di lokasi kejadian. Tim penyelamat juga mempercepat proses evakuasi untuk menemukan pekerja yang masih terjebak di dalam tambang.
Pemerintah setempat mendeteksi kadar karbon monoksida melampaui batas aman di area tambang. Kondisi itu memperburuk keadaan para pekerja yang terjebak setelah ledakan terjadi. Sejumlah korban bahkan mengalami kondisi kritis.
Jumlah korban meninggal terus bertambah pada Sabtu pagi seiring petugas melanjutkan proses evakuasi dan identifikasi korban.
Xi Jinping Soroti Keselamatan Tambang
Presiden China, Xi Jinping, meminta seluruh pihak terkait mengoptimalkan penanganan korban luka sekaligus mempercepat operasi penyelamatan. Ia juga memerintahkan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti ledakan tersebut.
Dalam pernyataannya, Xi menegaskan pentingnya peningkatan standar keselamatan kerja di sektor pertambangan. Pemerintah China berharap langkah itu mampu mencegah insiden serupa kembali terjadi pada masa mendatang.
Di sisi lain, aparat berwenang menempatkan seorang penanggung jawab perusahaan tambang di bawah pengawasan hukum selama proses investigasi berlangsung.
Kecelakaan ini menjadi tragedi tambang terburuk di China sejak ledakan tambang tahun 2009 di Provinsi Heilongjiang yang menewaskan lebih dari 100 orang. Peristiwa terbaru itu kembali memicu perhatian publik terhadap lemahnya standar keamanan di industri pertambangan.
Sebagai salah satu pusat produksi batu bara terbesar di China, Provinsi Shanxi selama ini bergantung pada sektor pertambangan. Meski pemerintah terus meningkatkan standar keselamatan kerja, sejumlah perusahaan tambang masih mengabaikan prosedur keamanan.
China hingga kini masih mengonsumsi batu bara dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Namun, pemerintah juga terus memperluas penggunaan energi terbarukan guna mengurangi emisi gas rumah kaca.









