Jangan Asal Ikuti Tren Skincare Viral, Dokter Kulit Ungkap Risiko Layering dan Eksfoliasi
Jakarta, iNBrita.com — Banyak orang mengikuti tren skincare yang viral di media sosial untuk merawat wajah. Namun, para dokter kulit mengingatkan bahwa tidak semua metode dan produk kecantikan cocok untuk setiap jenis kulit.
Selain itu, kebiasaan meniru rutinitas influencer tanpa pemahaman yang benar justru dapat memicu masalah kulit. Akibatnya, banyak orang mengalami iritasi, jerawat, hingga kerusakan skin barrier.
Di sisi lain, tren layering skincare dan eksfoliasi semakin populer karena dianggap membuat kulit lebih sehat dan cerah.
Pendiri klinik kecantikan Dermalogia, dr. Arini Astasari Widodo, MS, Sp.DVE, FINSDV, menjelaskan bahwa seseorang boleh melakukan layering skincare. Namun, ia menegaskan bahwa pengguna tetap harus memahami cara pemakaian yang benar.
“Di media sosial ada yang pro dan kontra, jadi banyak orang bingung. Padahal layering itu boleh, tetapi tetap harus mengikuti panduan,” jelasnya.
Urutan skincare sangat menentukan hasil
Selain itu, banyak orang masih salah mengurutkan pemakaian skincare. Oleh karena itu, seseorang perlu menggunakan produk dari tekstur paling ringan ke paling berat, mulai dari berbahan dasar air hingga minyak.
Dengan cara ini, kulit dapat menyerap setiap produk secara optimal. Sebaliknya, jika seseorang salah urutan, produk tidak akan meresap dan hanya menumpuk di permukaan kulit.
“Kalau orang memakai produk berminyak dulu baru yang cair, kulit tidak bisa menyerapnya. Akibatnya, itu hanya membuang produk,” kata dr. Arini.
Selain itu, ia menyarankan jeda sekitar 15 menit di setiap tahap skincare agar hasil lebih maksimal. Kemudian, ia menegaskan bahwa sunscreen harus selalu menjadi langkah terakhir di pagi hari.
Eksfoliasi wajah juga tidak boleh sembarangan
Selain layering, banyak orang melakukan eksfoliasi untuk mengangkat sel kulit mati agar wajah terlihat lebih cerah.
Namun demikian, dokter mengingatkan agar orang tidak melakukan eksfoliasi secara berlebihan. Sebaliknya, tindakan yang terlalu agresif justru dapat merusak kulit.
Dokter spesialis kulit dan kelamin dari ADS Skin Clinic, dr. Armansjah Dara Sjahruddin, Sp.DVE, M.Kes, menjelaskan bahwa kulit akan memberikan sinyal jika eksfoliasi dilakukan secara tidak tepat.
“Kalau kulit terasa nyeri, perih, atau sangat kesat, berarti eksfoliasi sudah tidak aman,” ujarnya.
Perawatan kulit harus sesuai kondisi masing-masing
Oleh karena itu, setiap orang perlu menyesuaikan perawatan kulit dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian, tidak ada satu metode skincare yang cocok untuk semua orang.
Selain itu, setiap orang memiliki tingkat sensitivitas kulit yang berbeda. Karena itu, penggunaan bahan aktif maupun eksfoliasi asam tidak bisa disamakan.
“Semua tindakan kulit harus berdasarkan indikasi medis. Ada pasien yang hanya butuh satu lapisan peeling, ada juga yang membutuhkan lebih banyak,” jelas dr. Arini.
Dengan demikian, dokter menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis profesional sebelum mengikuti tren skincare yang viral di media sosial.









