Jakarta. iNBrita.com – Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan sejumlah tantangan ekonomi dalam negeri mendorong pelaku pasar menjauhi aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Pada perdagangan pagi, rupiah turun 54,5 poin atau sekitar 0,31 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS. Sebagai perbandingan, sehari sebelumnya rupiah masih berada di level Rp17.805 per dolar AS.
Konflik AS-Iran Kembali Membayangi Pasar
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai konflik yang belum mereda antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah. Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.
Selain itu, penguatan indeks dolar AS yang mendekati level psikologis 100 turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Di saat yang sama, pasar mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga minyak dunia yang dapat memicu peningkatan inflasi global.
Karena itu, Rully memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, pelaku pasar masih menunggu kepastian terkait perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Faktor Domestik Ikut Menahan Penguatan Rupiah
Tidak hanya dipengaruhi sentimen eksternal, rupiah juga menghadapi tantangan dari dalam negeri. Investor masih mencermati kondisi fiskal pemerintah, arah kebijakan ekonomi, serta potensi kenaikan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Berbagai faktor tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi aman. Akibatnya, ruang penguatan rupiah menjadi lebih terbatas meskipun terdapat peluang perbaikan sentimen di pasar global.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz Jadi Sorotan
Sementara itu, analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Ia menyoroti keputusan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu utama penguatan dolar AS.
Lebih lanjut, rencana Iran untuk menutup Selat Hormuz menjadi perhatian serius pasar internasional. Jalur pelayaran tersebut memiliki peran vital dalam distribusi minyak dunia sehingga setiap gangguan dapat memengaruhi pasokan energi global.
Jika penutupan benar-benar terjadi, pasar memperkirakan pasokan minyak akan terganggu dan harga energi berpotensi melonjak. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
Data Ekonomi AS Perkuat Dolar
Di sisi lain, data manufaktur Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan pasar turut mendukung penguatan dolar AS. Kinerja sektor manufaktur yang solid menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih cukup kuat di tengah berbagai tantangan global.
Sentimen positif tersebut membuat investor semakin percaya diri terhadap prospek dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali meningkat.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Pada akhirnya, kombinasi ketidakpastian geopolitik, potensi lonjakan harga minyak dunia, dan kuatnya data ekonomi Amerika Serikat masih mendominasi sentimen pasar.
Oleh sebab itu, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Pelaku pasar pun diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik global sebagai faktor utama yang menentukan arah pergerakan mata uang.
(eny)









