Jakarta, iNBrita.com — PT Freeport Indonesia (PTFI) terus memperkuat investasi sosial di bidang pendidikan melalui pengelolaan Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP). Perusahaan tidak hanya menyediakan pendidikan berkualitas, tetapi juga memenuhi kebutuhan nutrisi siswa untuk mendukung pertumbuhan fisik dan kemampuan belajar mereka.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan perusahaan terus mengembangkan sektor pendidikan di Papua. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun generasi masa depan. Karena itu, PTFI menggabungkan pendidikan berkualitas dengan pemenuhan kebutuhan gizi siswa.
“Jadi kita review dan juga mengekstensifikasi dan mengintensifikasi sektor pendidikan karena pendidikan itu penting sekali. Contohlah misalnya Sekolah Asrama Taruna Papua, bukan nggak mungkin nanti kita akan bikin lagi sekolah asrama Taruna Papua. Itu kan dapat makanan bergizi gratis lima kali satu hari,” ujar Tony dalam program Mining Zone CNBC Indonesia di Tembagapura, Papua Tengah, dikutip Jumat (21/8/2026).
PTFI Siapkan Lima Kali Makan Setiap Hari
PTFI menyiapkan makanan untuk siswa SATP sebanyak lima kali setiap hari. Siswa menikmati sarapan, makan siang, dan makan malam. Selain itu, mereka juga mendapatkan kudapan sebanyak dua kali dalam sehari.
Perusahaan mengelola dapur secara langsung di lingkungan sekolah. Tim dapur memilih dan mengolah bahan makanan dengan standar kebersihan yang ketat. PTFI juga menerapkan quality control untuk menjaga mutu setiap makanan yang tersaji.
“Jadi pagi, siang, malam dan juga dua kali snack. Dapurnya di situ juga dan dengan quality control yang kita jaga,” kata Tony.
Dapur tersebut melayani kebutuhan makanan dalam jumlah besar. Selain menyiapkan makanan bagi siswa, tim dapur juga menyediakan konsumsi untuk para staf sekolah. Tony memperkirakan dapur itu mampu menyiapkan lebih dari 2.000 hingga sekitar 3.000 porsi makanan setiap hari.
PTFI Hadirkan Pengajar dari Amerika Serikat
PTFI juga mengembangkan kualitas pembelajaran di SATP melalui penerapan kurikulum Merdeka Plus. Perusahaan menghadirkan tenaga pengajar berpengalaman untuk membantu siswa mengembangkan berbagai kemampuan.
Selain itu, PTFI mendatangkan penutur asli bahasa Inggris dari Amerika Serikat. Para pengajar tersebut membantu siswa dari tujuh suku di Mimika meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.
“Sekolah boarding school pertama di Papua yang dengan kurikulum merdeka plus dan juga dengan native speaker dari luar negeri dari Amerika untuk mengajarkan bahasa Inggris dan lain sebagainya untuk program-program lain,” jelas Tony.
Program tersebut melengkapi pendidikan akademik yang siswa dapatkan di sekolah. Dengan dukungan fasilitas asrama, makanan bergizi, serta tenaga pengajar, PTFI menargetkan SATP dapat mencetak generasi muda Papua yang memiliki kompetensi untuk menghadapi masa depan.
Investasi Sosial PTFI Capai US$100 Juta
PTFI memasukkan program pendidikan dan pemenuhan gizi siswa sebagai bagian dari investasi sosial perusahaan. Tony menyebut PTFI mengalokasikan sekitar US$100 juta atau sekitar Rp2 triliun setiap tahun untuk investasi sosial.
Perusahaan menargetkan investasi tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. PTFI ingin mendorong masyarakat berkembang seiring dengan pertumbuhan industri pertambangan nasional.
“Karena kami yakin, saya yakin tidak mungkin ada perusahaan yang bisa bertahan di tengah lingkungan dan masyarakat yang gagal. Jadi harus tumbuh bersama-sama dengan masyarakat,” tandas Tony.
(eny)









