Jakarta, iNBrita.com – Definisi “orang kaya” di dunia kini tidak lagi sekadar soal gaji besar. Memasuki 2026, para pakar menilai seseorang masuk kelas atas jika ia mampu menghadapi risiko dan ketidakpastian ekonomi secara stabil.
Kevin Marshall, CPA dan pakar keuangan pribadi di Amortization Calculator, menyebutkan bahwa di Amerika Serikat, seseorang masuk kelas atas jika ia memiliki kekayaan bersih antara US$2 juta hingga US$5 juta. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp15.700 per dolar AS, angka itu setara Rp31,4 miliar hingga Rp78,5 miliar.
Investasi dan Kebiasaan Finansial Menentukan Status Kelas Atas
Marshall menekankan, kelas menengah dan kelas atas berbeda bukan hanya dari jumlah uang, tetapi dari kebiasaan finansial. Orang yang mencapai kelas atas biasanya:
-
Berinvestasi secara jangka panjang dan terdiversifikasi, bukan melakukan spekulasi sesaat.
-
Mengembangkan aset seperti reksa dana indeks, properti, dan bisnis yang nilainya terus meningkat.
-
Menyimpan dana darurat sekaligus dana peluang, sehingga bisa memanfaatkan kesempatan investasi maupun menghadapi kondisi tak terduga.
Ia menjelaskan, seseorang dengan gaji enam digit dolar bisa tetap hidup pas-pasan sehingga satu pengeluaran mendadak saja mengganggu keuangannya. Sebaliknya, orang yang disiplin menabung dan membangun ruang finansial akan lebih cepat mencapai status kelas atas karena menciptakan stabilitas sebelum memperbesar kekayaan.
Kelas Atas Berfokus pada Ketahanan, Bukan Kecepatan
Chris Heerlein, CEO REAP Financial, mengatakan tanda seseorang masuk kelas atas terlihat ketika ia tidak bereaksi panik terhadap tekanan finansial. Para anggota kelas atas:
-
Mengatur pendapatan dan biaya tetap secara jangka panjang.
-
Menyerap guncangan ekonomi tanpa mengubah gaya hidup.
-
Menjaga rencana masa depan tetap aman meski terjadi kondisi darurat.
Heerlein menegaskan, kelas atas bukan soal cepat kaya, tapi soal mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi tanpa mengorbankan masa depan.
(vvr)









