iNBrita.com — Hujan ekstrem mengguyur wilayah selatan China selama beberapa hari terakhir. Akibatnya, berbagai aktivitas lumpuh dan kerusakan terjadi di banyak tempat.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong, menjadi salah satu kota yang paling parah terdampak. Curah hujan yang turun merupakan yang terberat kedua sepanjang abad ini untuk bulan Agustus. Bandara Baiyun membatalkan 363 penerbangan dan menunda 311 lainnya akibat badai hebat.
Selain Guangzhou, kota-kota lain di Delta Sungai Mutiara juga terkena dampak. Hong Kong dan kawasan teknologi tinggi ikut terendam.
Data cuaca mencatat bahwa hujan pada Selasa lalu menjadi yang terlebat di bulan Agustus sejak tahun 1884. Tanah longsor, pohon tumbang, dan banjir lumpur melanda banyak area permukiman.
Tim penyelamat langsung bergerak ke berbagai titik terdampak. Mereka membuka saluran air, memompa genangan, dan mengevakuasi warga.
Gambar dari lapangan menunjukkan jalan-jalan yang rusak parah. Beberapa ruas bahkan memperlihatkan kabel dan infrastruktur bawah tanah yang terkelupas.
“Seluruh tim penyelamat dikerahkan untuk membantu evakuasi,” ujar juru bicara militer, Suneel Bartwal, yang dilansir dari Reuters
Di tengah banjir, ancaman wabah chikungunya mulai muncul. Genangan air memicu lonjakan populasi nyamuk pembawa virus.
Foshan, kota di sebelah barat Guangzhou, mencatat lebih dari 7.000 kasus chikungunya. Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa penyebaran bisa meluas jika tidak ditangani dengan cepat.
Pemerintah provinsi bergerak cepat menangani ancaman penyakit. Mereka menyemprotkan disinfektan, membersihkan genangan, dan membagikan obat-obatan kepada warga.
“Musim banjir tahun ini sangat berat. Aktivitas nyamuk meningkat tajam,” ujar pejabat kesehatan lokal. Warga diminta menjaga kebersihan dan segera melapor jika mengalami gejala demam tinggi.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut banjir ekstrem ini sebagai dampak krisis iklim. Perubahan cuaca global memicu siklus air yang semakin tidak stabil.
Saat ini, 16 sungai di Provinsi Guangdong berada dalam status siaga tinggi. Bahkan, dua di antaranya telah melampaui rekor tinggi muka air sejak 2017 dan 2018. (*)














