Jambi, iNBrita.com — Gelombang demonstrasi, penjarahan rumah anggota DPR, hingga pembakaran gedung DPRD di berbagai daerah mencerminkan adanya jurang komunikasi antara rakyat dan wakilnya.
Rakyat menuntut kehadiran, keberpihakan, dan perjuangan nyata, tetapi yang tampak justru perilaku elitis dan jauh dari aspirasi masyarakat.
” Saya menegaskan, komunikasi politik legislatif harus berlandaskan empati. Wakil rakyat tidak cukup hanya menyampaikan informasi, melainkan juga wajib merasakan keresahan publik”, ujar Citra Darminto .
Menurutnya Wakil rakyat mendengar dan menghadirkan solusi yang adil. Transparansi, konsistensi, dan kesediaan mendengar menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan rakyat .
Fenomena anggota dewan yang absen tinggi, sibuk dengan kepentingan pribadi, atau bermain media sosial saat rapat menunjukkan lemahnya etika politik.
Paripurna yang sekadar memenuhi kuorum menandakan miskinnya komunikasi representatif. Padahal, DPR dan DPRD merupakan penjelmaan masyarakat yang harus mengartikulasikan kepentingan rakyat menjadi kebijakan.
Untuk memperbaiki kondisi, legislatif perlu menerapkan prinsip 3 Good.yakni :
1. Good Looking, bukan sekadar penampilan, tetapi citra moral, etika, dan kesopanan.
2. Good Speaking, yakni berbicara santun, sederhana, membumi, dan mau mendengar.
3. Good Acting, yaitu konsistensi antara kata dan perbuatan, hadir aktif dalam sidang, serta memperjuangkan aspirasi rakyat.
Dengan prinsip ini, legislatif dapat membangun citra sebagai lembaga yang bermartabat, komunikatif, dan efektif. Rakyat akan menilai wakilnya bukan sekadar duduk di kursi paripurna, tetapi hadir sebagai figur yang layak dipercaya, didengar, dan diandalkan.
(Eni Syamsir)














