Jakarta, iNBrita.com — Pagi ini, Rabu (4/3/2026), investor menjual saham sehingga IHSG jatuh tajam 2,55% ke level 7.736,92 hanya dalam setengah jam setelah pembukaan bursa. Aksi jual ini melanjutkan tren penurunan beberapa hari terakhir.
Mayoritas saham mengalami tekanan karena investor terus melepaskan kepemilikan mereka. Dari sekitar 800 saham, 561 saham turun, sementara hanya 105 naik. Investor menukar saham senilai hampir Rp 6 triliun, dengan ENRG, BUMI, dan MEDC menjadi yang paling ramai diperjualbelikan.
Saham tambang emas dan saham konglomerasi menekan IHSG karena investor mengurangi posisi di saham-saham tersebut. Saham blue chip seperti Telkom, Bank Mandiri, BCA, dan BRI ikut turun, memperberat tekanan indeks. Sektor infrastruktur dan barang baku mencatat koreksi terdalam, sementara sektor kesehatan dan energi bertahan lebih baik.
OJK dan KSEI memperbarui data pemegang saham yang memiliki lebih dari 1%, mengklasifikasikan ulang tipe investor, dan menyiapkan aturan free float minimum baru serta daftar konsentrasi pemegang saham. Langkah ini membantu investor menilai risiko konsentrasi dan meningkatkan transparansi pasar.
Investor global juga menjual saham di bursa Asia. Kospi Korea Selatan turun 7,24%, Nikkei Jepang dan ASX Australia melemah. Investor menaikkan harga minyak karena Iran menutup Selat Hormuz, sementara AS mengawal kapal tanker untuk menjaga aliran energi tetap bebas.
Di Amerika Serikat, investor melepaskan saham karena kekhawatiran konflik AS-Iran. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq turun signifikan, menambah ketidakpastian pasar global.
Singkatnya, investor di dalam dan luar negeri menjual saham secara besar-besaran, sehingga IHSG tertekan. Volatilitas tinggi dan risiko pasar masih mengintai.
(*)









