Jakarta, iNBrita.com –-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Selasa (22/9/2026). IHSG turun 1,11% dan menutup perdagangan di level 6.313.
Investor melakukan aksi jual sepanjang perdagangan. Aktivitas tersebut mendorong volume transaksi mencapai 13,66 miliar saham dengan nilai Rp5,13 triliun. Pelaku pasar juga mencatat frekuensi transaksi sebanyak 877 ribu kali.
IHSG sempat menguat saat perdagangan dibuka. Namun, tekanan jual segera kembali menekan indeks. IHSG bahkan menyentuh level terendah 6.302.
Investor kini menunggu keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan mengumumkan hasilnya pada Rabu (23/9/2026).
Konsensus ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75%. Investor mencermati keputusan tersebut karena kebijakan suku bunga dapat memengaruhi pergerakan rupiah, likuiditas pasar, dan kinerja saham.
Tekanan jual juga menghantam sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar. Investor melepas saham-saham bank utama sehingga harga beberapa saham perbankan mengalami penurunan.
Berikut sejumlah saham perbankan yang mencatat pelemahan:
- BBRI turun 3,03% menjadi Rp3.200 per saham dengan nilai transaksi Rp259 miliar.
- BBNI melemah 1,65% menjadi Rp3.560 per saham dengan nilai transaksi Rp51 miliar.
- BMRI turun 0,71% menjadi Rp4.170 per saham dengan nilai transaksi Rp219 miliar.
- BBCA terkoreksi 0,40% menjadi Rp6.200 per saham dengan nilai transaksi Rp223 miliar.
Investor Mencermati Arah Kebijakan BI
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyebut investor akan mencermati keputusan BI sekaligus pesan yang disampaikan bank sentral mengenai kondisi rupiah.
Jika BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%, investor kemungkinan akan mengalihkan perhatian pada kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pelaku pasar ingin mengetahui bagaimana BI menilai kondisi rupiah dan langkah apa yang akan ditempuh jika tekanan terhadap mata uang tersebut kembali meningkat.
BI tidak hanya mengandalkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral juga dapat menggunakan cadangan devisa dan berbagai instrumen moneter lainnya untuk mengendalikan gejolak nilai tukar di pasar keuangan.
Karena itu, investor tidak hanya menunggu keputusan mengenai BI Rate. Mereka juga akan mencermati pernyataan BI mengenai kondisi rupiah dan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Keputusan tersebut akan menjadi salah satu perhatian utama pasar dalam menentukan arah perdagangan IHSG berikutnya.
(eny)









