Jakarta, iNBrita.com –Kayu gelondongan yang hanyut saat banjir melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Temuan kayu berukuran besar itu memicu kekhawatiran baru, sebab banyak pihak menilai kerusakan hutan ikut memperparah bencana. Karena itu, pemerintah Aparat negara bergerak cepat menelusuri asal-usul mengerahkan berbagai lembaga untuk memeriksa penyebab kerusakan lingkungan di tiga wilayah tersebut.
Polri melalui Dittipidter Bareskrim langsung memeriksa kayu-kayu yang tersebar di lokasi banjir. Dirtipidter Brigjen Pol Moh. Irhamni memastikan timnya sudah meninjau temuan di lapangan. Setelah bertemu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan komitmen penegakan hukum lingkungan. Ia memerintahkan jajarannya menyusuri kawasan hulu hingga hilir agar dugaan pembalakan liar dapat terungkap.
Selain itu, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang melibatkan TNI dan Kejaksaan Agung ikut turun ke lapangan. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah menyatakan bahwa TNI mendukung pengamanan proses pemeriksaan. Dengan demikian, seluruh unsur satgas dapat bekerja lebih cepat dan terkoordinasi.
Kejaksaan Agung juga mengirim tim aparat negara untuk menilai kondisi hutan dan menelusuri asal gelondongan kayu. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriatna, menegaskan bahwa tim masih mengumpulkan data awal. Karena itu, mereka belum menyimpulkan kaitan banjir dengan aktivitas tambang atau eksploitasi lain.
Di sisi lain, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol menjelaskan bahwa banjir kemungkinan menyeret kayu gelondongan dari area pembukaan kebun sawit. Ia menyoroti praktik penumpukan kayu di tepi lahan, yang membuat arus deras mudah mengangkut material tersebut. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya tata kelola perkebunan yang lebih berkelanjutan agar ekosistem tetap terlindungi.(ES*)













