Jakarta, iNBrita.com — Banyak orang langsung mencari makanan atau minuman manis ketika mereka merasa lelah, stres, atau sedih. Mereka memilih cokelat, kue, kopi susu, hingga minuman boba sebagai “pelarian” untuk memperbaiki suasana hati. Setelah mengonsumsi makanan tersebut, tubuh mereka biasanya merasa lebih tenang dan mood meningkat, meski hanya sementara.
Kebiasaan ini sering orang anggap sebagai comfort food biasa. Namun, di balik sensasi menyenangkan itu, tubuh menjalankan rangkaian proses biologis yang melibatkan kerja otak dan sistem pencernaan.
Sistem penghargaan otak ikut aktif
Rasa manis memicu sistem reward di otak, yaitu jaringan yang mengatur rasa senang, motivasi, dan dorongan untuk mengulang suatu perilaku. Saat seseorang mengonsumsi makanan manis, sistem ini langsung bereaksi dan menghasilkan sensasi puas.
Respons ini menjelaskan mengapa orang merasa makanan manis sangat “menghibur” dan sulit mereka tolak, terutama ketika mereka berada dalam kondisi emosional tertentu.
Peran dopamin dalam rasa bahagia
Dopamin menjadi kunci utama dalam efek ini. Zat kimia di otak ini menciptakan rasa senang. Ketika gula masuk ke dalam tubuh, otak melepaskan dopamin dan memicu sensasi positif.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism (2024) oleh Molly McDougle dan tim menunjukkan bahwa gula tidak hanya memengaruhi otak melalui lidah. Usus juga ikut memproses sinyal tersebut.
Artinya, tubuh tidak hanya merasakan manis di mulut, tetapi juga mendeteksi gula sebagai sumber energi melalui sistem pencernaan. Usus kemudian mengirim sinyal ke otak untuk memperkuat rasa senang dan mendorong seseorang mengonsumsi kembali gula.
Mengapa Makanan Manis terasa “nagih”?
Saat seseorang menikmati makanan manis, otak mengaktifkan pola aktivitas yang berkaitan dengan rasa puas dan kesenangan. Otak menyimpan pengalaman ini sebagai sesuatu yang ingin diulang.
Hal ini menjelaskan mengapa orang sering merasa makanan manis “nagih”. Otak menghubungkan rasa manis dengan pengalaman positif sehingga tubuh mendorong keinginan untuk mencarinya kembali ketika membutuhkan kenyamanan emosional.
Efek sementara dan risiko konsumsimakanan manis, minuman manis
Meskipun makanan manis dapat memperbaiki mood dalam waktu singkat, efek tersebut tidak bertahan lama. Setelah kadar gula dan dopamin kembali normal, suasana hati sering kembali seperti semula.
Jika seseorang mengonsumsi gula terlalu sering, sistem reward di otak menjadi kurang sensitif. Akibatnya, tubuh membutuhkan lebih banyak gula untuk merasakan efek bahagia yang sama seperti sebelumnya.
Kondisi ini dapat mendorong pola makan berlebihan. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut meningkatkan risiko kenaikan berat badan, gangguan metabolisme, hingga penyakit seperti diabetes.
Pentingnya keseimbangan
Makanan manis tetap dapat memberikan manfaat jika seseorang mengonsumsinya dalam jumlah wajar. Makanan ini dapat menjadi sumber energi dan membantu memperbaiki suasana hati.
Namun, seseorang perlu mengendalikan konsumsinya. Dengan memahami bagaimana tubuh merespons gula, orang dapat membuat pilihan yang lebih bijak saat menghadapi emosi yang tidak stabil, sehingga mereka tetap menikmati makanan manis tanpa membahayakan kesehatan
(eny)









