Jakarta, iNBrita.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa ia tengah menjalani perawatan kanker prostat stadium awal yang telah ia derita selama beberapa bulan terakhir. Kondisi ini pun langsung menarik perhatian publik internasional, sekaligus mengingatkan dunia pada kisah tragis pemimpin Israel di masa lalu.
Netanyahu Jalani Pengobatan Kanker Prostat
Di sisi lain, kondisi kesehatan Netanyahu saat ini masih dalam tahap awal penanganan. Meski demikian, kabar tersebut tetap memicu perhatian luas karena menyangkut stabilitas kepemimpinan di Israel. Selain itu, publik juga mulai membandingkan situasi ini dengan pengalaman pemimpin sebelumnya yang menghadapi krisis kesehatan serius saat menjabat.
Ariel Sharon Alami Nasib Lebih Tragis
Sekitar dua dekade silam, Ariel Sharon mengalami kondisi yang jauh lebih dramatis. Ia mengakhiri masa jabatannya secara mendadak setelah stroke parah menyerangnya pada 2005. Akibatnya, serangan tersebut menghentikan karier politiknya dan sekaligus mengubah total kehidupannya.
Setelah itu, Sharon menghabiskan bertahun-tahun dalam kondisi koma. Menurut laporan The Independent, tim medis menopang hidupnya dengan berbagai alat bantu. Mereka memberikan asupan makanan dan minuman melalui selang, sementara itu tubuhnya hampir tidak menunjukkan respons terhadap lingkungan. Dengan kata lain, ia tetap hidup secara medis, tetapi kondisinya sangat bergantung pada perawatan intensif.
Kondisi tersebut kemudian mengguncang dunia. Pasalnya, publik internasional menyaksikan bagaimana seorang pemimpin yang sebelumnya kuat di medan perang berubah menjadi sosok yang tak berdaya dalam waktu singkat.
Hingga akhirnya, kondisi itu berujung pada wafatnya Sharon pada 11 Januari 2014 di usia 85 tahun.
Karier Militer Penuh Prestasi dan Kontroversi
Sebelumnya, Sharon membangun reputasi sebagai figur militer yang berpengaruh sekaligus kontroversial. Dalam hal ini, buku Warrior: The Autobiography of Ariel Sharon mencatat bahwa ia terlibat sejak muda dalam gerakan Zionisme dan berbagai konflik bersenjata. Berkat karakter kerasnya, David Ben-Gurion mempercayakan kepadanya posisi komandan militer di usia muda.
Selanjutnya, Sharon meningkatkan karier militernya sejak Perang Arab-Israel 1948 dengan berperan dalam mempertahankan Yerusalem. Tidak berhenti di situ, ia terlibat dalam berbagai konflik besar, seperti Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973.
Namun demikian, perjalanan tersebut tidak lepas dari kontroversi. Berdasarkan laporan Al Jazeera, sejumlah operasi militer yang ia pimpin menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Terlebih lagi, dua peristiwa yang paling disorot, yakni Pembantaian Qibya 1953 dan Pembantaian Sabra dan Shatila 1982, memicu kecaman luas dari komunitas internasional.
Dari Puncak Kekuasaan hingga Akhir Karier
Setelah itu, Sharon beralih ke dunia politik. Pada akhirnya, ia mencapai puncak kariernya saat terpilih sebagai Perdana Menteri Israel pada 2001. Selama menjabat, ia menerapkan kebijakan keras, terutama dalam operasi militer di wilayah Palestina serta pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat.
Di samping itu, Sharon juga mengumpulkan kekayaan dari sektor pertanian, peternakan, dan properti, sehingga ia dikenal sebagai salah satu perdana menteri terkaya di Israel. Akan tetapi, stroke yang menyerangnya menghentikan seluruh aktivitasnya secara tiba-tiba.
Akibat kondisi tersebut, ia tidak lagi mampu menjalankan tugas pemerintahan. Oleh karena itu, Ehud Olmert kemudian menggantikan posisinya sebagai Perdana Menteri, sekaligus menandai berakhirnya era kepemimpinan Ariel Sharon.
(eny)









