Jakarta, iNBrita.com – Tren lari jarak jauh semakin populer di kalangan anak muda Indonesia. Banyak pelari mengusung slogan “push your limit” sebagai motivasi untuk meningkatkan performa. Namun, di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan penting: sampai sejauh mana tubuh boleh dipaksa saat berlari?
Pelari nasional Indonesia, Odekta Elvina Naibaho, yang baru saja meraih medali emas SEA Games Thailand 2025, menegaskan bahwa konsep push your limit tidak cocok untuk semua orang. Menurutnya, slogan tersebut lebih relevan bagi atlet profesional dibandingkan pelari pemula atau rekreasional.
Odekta menjelaskan bahwa pelari pemula masih berada dalam fase adaptasi. Tubuh mereka belum siap menerima tekanan latihan berlebihan, terutama jika langsung memaksakan pace cepat atau target waktu tertentu. Jika pelari pemula terlalu memaksakan diri, risiko cedera hingga kolaps bisa terjadi.
Ia menekankan pentingnya mengenali tujuan berlari sejak awal. Odekta mengajak pelari untuk bertanya pada diri sendiri: apakah berlari demi kesehatan, gaya hidup, atau sekadar mencari pengakuan dari orang lain. Menurutnya, mindset yang keliru sering membuat pelari pemula terjebak dalam kompetisi tidak sehat.
Odekta juga mengingatkan bahwa adu cepat di antara pelari pemula memiliki risiko besar. Ia mendorong masyarakat untuk menjadikan lari sebagai sarana menjaga kesehatan jangka panjang, bukan alat validasi sosial. Lari yang konsisten dan aman justru membantu seseorang hidup lebih sehat dan berumur panjang.
Selain itu, Odekta menegaskan bahwa tidak semua lomba harus berakhir dengan personal best (PB). Bahkan atlet profesional pun mengalami fase naik dan turun dalam performa. Ia mengajak pelari untuk lebih mendengarkan tubuh dan menghargai proses.
Dengan mindset yang tepat, lari tidak hanya menjadi olahraga, tetapi juga investasi kesehatan untuk masa depan.
(VVR*)














