Jakarta, iNBrita.com – Gagal jantung sering muncul dengan gejala samar sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa USG karotis pada leher dapat membantu dokter mendeteksi dini risiko gagal jantung pada pria.
Menurut laporan The Sun, Dr. Atinuke Akinmolayan, dokter umum sekaligus rekan klinis akademis di NIHR yang memimpin penelitian dari UCL, menyatakan bahwa USG karotis bekerja seperti USG kehamilan dan mampu memberi peringatan dini.
“USG karotis aman, murah, dan tidak menyakitkan. Pemeriksaan ini dapat memberi tanda awal risiko gagal jantung,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pasien yang menunjukkan risiko lebih tinggi bisa langsung berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan perubahan gaya hidup guna menurunkan risiko tersebut.
Cara Kerja Pemindaian
Pemeriksaan berlangsung 15–30 menit. Dokter menggerakkan alat genggam kecil di leher untuk menilai elastisitas arteri karotis, pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak, wajah, dan leher.
Arteri biasanya bersifat elastis, tetapi penyakit dan usia bisa membuatnya kaku sehingga memicu tekanan darah tinggi, gagal jantung, serangan jantung, dan stroke.
Temuan Studi UCL
Peneliti University College London (UCL) memeriksa 1.631 pria usia 71–92 tahun. Mereka menemukan bahwa pria dengan arteri paling kaku memiliki risiko 2,5 kali lebih besar mengalami gagal jantung dibandingkan pria dengan arteri paling elastis.
Tim juga meneliti ketebalan arteri karotis. Mereka mencatat bahwa setiap peningkatan 0,16 mm pada ketebalan arteri meningkatkan risiko serangan jantung sebesar 29 persen.
Pengerasan Arteri Membebani Jantung
Dr. Atinuke menjelaskan bahwa pengerasan arteri membuat jantung bekerja lebih keras sehingga risiko gagal jantung meningkat. Ia menilai temuan ini penting karena dokter bisa menggunakan perubahan pada arteri karotis sebagai indikator risiko dan mencegahnya dengan strategi pengobatan.
Peneliti menyebut perlunya studi lanjutan untuk mengetahui efektivitas USG karotis pada perempuan. Meski begitu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan ini untuk pasien di atas 60 tahun bila dinilai perlu.
(VVR*)














