Jakarta, iNBrita.com –Hari Gizi Nasional Tanggal 25 Januari 2026 memiliki arti penting di bidang kesehatan. Pada hari ini, Indonesia dan dunia sama-sama memperingati agenda kesehatan yang relevan bagi masyarakat.
Di tingkat nasional, masyarakat memperingati Hari Gizi Nasional. Sementara itu, dunia internasional mengenang Hari Kusta Sedunia. Kedua peringatan ini menyoroti pentingnya pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup.
Peringatan Hari Gizi Nasional
Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional setiap 25 Januari. Pemerintah memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang.
Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa Lembaga Makanan Rakyat pertama kali menggagas Hari Gizi Nasional pada era 1960-an. Sejak 1970-an, Direktorat Gizi Masyarakat terus melanjutkan peringatan ini secara rutin.
Pada 2026, Hari Gizi Nasional memasuki usia ke-66. Tahun ini, pemerintah mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”.
Tema tersebut mendorong masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal. Selain itu, tema ini mengajak keluarga memulai pola makan sehat dari rumah.
Makna Hari Kusta Sedunia
Selain peringatan nasional, 25 Januari 2026 juga bertepatan dengan Hari Kusta Sedunia. Dunia memperingatinya setiap Minggu terakhir bulan Januari.
National Today menjelaskan bahwa kusta merupakan infeksi bakteri jangka panjang. Penyakit ini menyerang saraf, kulit, mata, dan saluran pernapasan. Penderita sering kehilangan kemampuan merasakan sakit.
Akibatnya, banyak luka tidak tertangani dengan baik. Kondisi tersebut dapat memicu komplikasi serius, termasuk kerusakan permanen pada anggota tubuh.
Masyarakat juga mengenal kusta sebagai penyakit Hansen. Nama ini berasal dari Gerhard Henrik Armauer Hansen, dokter yang menemukan bakteri penyebab kusta.
Tujuan Peringatan Global
Filantropis asal Prancis, Raoul Follereau, menetapkan Hari Kusta Sedunia pada 1954. Ia ingin meningkatkan perhatian dunia terhadap dampak sosial dan ekonomi kusta.
Saat ini, dunia medis dapat menyembuhkan kusta. Namun, stigma dan diskriminasi masih sering terjadi. Banyak penderita mengalami pengucilan dan kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Melalui peringatan ini, masyarakat diharapkan memahami kusta dengan lebih baik. Kesadaran tersebut dapat mendorong pengobatan dini dan kehidupan yang lebih bermartabat bagi penderita.
(eny)














