Perempuan dan Risiko Kesehatan Mental yang Lebih Tinggi
Jakarta, iNBrita.com — Fenomena kesehatan mental kini menarik perhatian banyak pihak karena perempuan sering memikul beban tanggung jawab yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Data menunjukkan bahwa perempuan menghadapi risiko depresi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki akibat berbagai faktor yang saling berkaitan.
Kurangnya EdukasiPsikolog Universitas Hang Tuah Surabaya, Desi Nur Utami, menjelaskan bahwa faktor biologis dan genetika dapat memengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. Ia juga menilai bahwa kurangnya edukasi membuat banyak orang tidak mampu mengenali perubahan kondisi psikologis yang mereka alami.
Tuntutan Peran Ganda pada Perempuan
Desi menegaskan bahwa perempuan sering menjalankan berbagai peran sekaligus, seperti anak, istri, ibu, dan pekerja profesional. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut mendorong perempuan untuk mengabaikan kesehatan mental karena lebih fokus memenuhi kebutuhan orang lain, sehingga mereka tidak menyadari kelelahan emosional sejak awal.
“Kurangnya edukasi kesehatan membuat seseorang tidak mengenali dengan jelas apa yang terjadi pada dirinya, baik secara fisik maupun mental,” ujarnya. Desi mendorong masyarakat untuk berbagi cerita kepada orang terdekat karena dukungan sosial dari keluarga dan teman dapat membantu memberikan sudut pandang yang lebih objektif.
Desi menyoroti bahwa media sosial sering memicu tekanan mental karena menampilkan standar kehidupan yang tidak realistis. Ia menjelaskan bahwa pengguna sering membandingkan diri dengan orang lain sehingga merasa kurang terhadap kehidupannya sendiri.
Ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan media sosial secara bijak dan tidak menjadikannya sebagai ukuran kesuksesan hidup.
Desi menyarankan masyarakat untuk menjaga kesehatan mental dengan cara beristirahat cukup, mendengarkan musik, atau berolahraga. Ia juga menekankan bahwa perempuan perlu memprioritaskan diri sendiri di tengah berbagai peran yang mereka jalani.
Layanan Kesehatan Mental di Puskesmas
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Banten, mengajak perempuan memanfaatkan layanan kesehatan mental di 39 puskesmas. Pemerintah daerah mendorong langkah ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, menjelaskan bahwa banyak perempuan masih mengutamakan keluarga dan lingkungan sehingga mengabaikan kesehatan diri sendiri. Ia menegaskan bahwa seluruh puskesmas telah menyediakan layanan konsultasi kesehatan mental dengan tenaga terlatih.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) yang turun langsung ke masyarakat. Tim ini memberikan edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.
(eny)









