Jakarta, iNBrita.com — Rupiah memperoleh ruang penguatan di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Pada perdagangan Jumat (17/7/2026), rupiah dibuka stagnan di Rp18.003/US$, lalu menguat tipis 0,03% ke Rp17.998/US$.
Tekanan Dolar AS dan Dukungan Investasi
Rupiah menguat seiring koreksi dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,05% yang mendorong indeks dolar turun ke level 100,71. Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent memang naik 0,77% ke US$84,88 per barel. Namun, pelaku pasar tetap menopang rupiah dengan data realisasi investasi Indonesia.
Pemerintah mencatat realisasi investasi kuartal II-2026 tumbuh 7,1% (yoy) menjadi Rp511,8 triliun. Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp257,7 triliun. Secara kumulatif, realisasi investasi semester I-2026 menembus Rp1.010,6 triliun atau naik 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan PMA sebesar Rp507,6 triliun.
Risiko Eksternal Masih Membayangi
Meski rupiah menguat, pelaku pasar melihat ruang penguatan masih terbatas. Kenaikan harga minyak berpotensi berlanjut karena ketegangan di Timur Tengah belum mereda.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak stabil. Namun, ringgit Malaysia melemah 0,16%, diikuti dolar Singapura dan yuan offshore yang juga terkoreksi tipis.
Fokus Beralih ke Kebijakan Bank Indonesia
Pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian ke kebijakan moneter Bank Indonesia, khususnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan. Bloomberg Economics memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6%, melanjutkan siklus pengetatan sejak Mei.
Pelaku pasar tidak mendasari ekspektasi ini pada lonjakan inflasi. Sebaliknya, inflasi masih terkendali dalam target BI di kisaran 1,5%–3,5%. Namun, mereka merespons volatilitas rupiah yang meningkat di tengah risiko global.
Investasi Jadi Penopang Rupiah
Kinerja investasi yang tumbuh di atas 7% (yoy) menunjukkan investor tetap percaya pada prospek ekonomi Indonesia. Arus investasi langsung ini memberi bantalan bagi rupiah karena sifatnya lebih stabil dibandingkan aliran modal portofolio.
Meski demikian, pasar valuta asing tetap sensitif terhadap dinamika suku bunga global dan pergerakan dolar AS. Pelemahan indeks dolar pada pagi hari memberi ruang tambahan bagi rupiah untuk menguat.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan dengan target di kisaran Rp17.950–Rp17.900/US$. Jika rupiah menembus resistance kuat, nilainya dapat menguat lebih lanjut hingga Rp17.800/US$.
Sebaliknya, jika tekanan meningkat, rupiah dapat melemah ke level support terdekat di Rp18.000/US$. Selanjutnya, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp18.050–Rp18.100/US$.
(VVR*)








