Harga Emas Dunia Menguat, Investor Dihantui FOMO
Jakarta, iNBrita.com – Harga emas dunia kembali menguat tipis pada perdagangan Senin. Penguatan ini membuat harga emas bertahan di dekat level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir.
Kuatnya minat beli masih menopang pergerakan emas. Selain itu, investor mulai khawatir kehilangan peluang ketika harga emas kembali naik atau mengalami fear of missing out (FOMO).
Mengutip CNBC, Selasa (11/8/2026), harga emas spot naik 0,4% menjadi US$4.356,79 per ounce. Pada perdagangan Jumat sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$4.371,63 per ounce.
Level tersebut menjadi harga tertinggi sejak 17 Juni 2026. Kenaikan itu terjadi setelah data ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) Amerika Serikat menunjukkan penurunan yang tidak terduga.
Harga emas berjangka Amerika Serikat juga menguat 0,4% menjadi US$4.416,00 per ounce.
Momentum Kenaikan Emas Masih Kuat
Analis melihat tren teknikal emas masih menunjukkan arah positif. Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai momentum kenaikan harga masih cukup kuat.
“Momentum teknikal saat ini cukup kuat untuk emas secara keseluruhan,” kata Haberkorn.
Menurut Haberkorn, investor masih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mereka kini mencermati pembelian emas oleh China serta menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat.
Pasar akan menerima data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat pada pekan ini.
“Perdagangan masih cenderung berhati-hati, dengan adanya pembelian dari China, serta laporan CPI dan PPI Juli pekan ini,” ujarnya.
Investor juga mengantisipasi kemungkinan harga emas kembali menembus US$4.500 per ounce. Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku pasar untuk membeli emas lebih awal agar tidak kehilangan peluang kenaikan harga.
China Tambah Cadangan Emas
Pembelian emas oleh China menjadi salah satu faktor yang menjaga harga emas tetap kuat dalam beberapa hari terakhir.
Bank sentral China meningkatkan cadangan emas pada Juli 2026. Data resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan penambahan tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023.
China menggunakan pembelian emas sebagai salah satu cara untuk memperkuat cadangan asetnya di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa permintaan emas dari sektor resmi masih kuat. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan terhadap harga logam mulia di pasar global.
Investor Menunggu Data Inflasi AS
Selain aktivitas pembelian China, investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat. Pemerintah AS akan merilis data CPI pada Rabu, sedangkan data PPI akan menyusul pada Kamis.
Ekonom yang disurvei memperkirakan inflasi konsumen Amerika Serikat pada Juli mencapai 3,4% secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5% pada Juni 2026.
Market Analyst American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai data CPI akan menentukan arah emas selanjutnya.
“Data CPI akan menjadi sangat penting,” kata Wyckoff.
Menurut dia, pasar melihat tanda-tanda tekanan inflasi mulai mereda. Jika data CPI tidak menunjukkan lonjakan inflasi yang terlalu tinggi, harga emas berpeluang bergerak stabil hingga menguat dalam jangka pendek.
Ekspektasi penurunan tekanan inflasi juga membuat investor kembali memperhatikan kebijakan moneter Federal Reserve.
Pasar Pantau Kebijakan The Fed
Pelaku pasar juga menghitung peluang perubahan kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga pada September 2026. Sementara itu, peluang kenaikan pada Desember 2026 mencapai 81%.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Karena itu, investor akan mencermati setiap pernyataan dan data ekonomi yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed.
Geopolitik Timur Tengah Jadi Perhatian
Selain inflasi dan suku bunga, investor juga memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz.
Namun, Iran menyebut Amerika Serikat masih harus memenuhi sejumlah persyaratan sebelum jalur pelayaran strategis tersebut dapat kembali terbuka sepenuhnya.
Perkembangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset safe haven, termasuk emas.
Harga Perak dan Platinum Bergerak Beragam
Pergerakan logam mulia lainnya berlangsung beragam.
Harga perak spot melonjak 2,3% menjadi US$65,03 per ounce. Sementara itu, harga platinum turun 0,1% menjadi US$1.743,05 per ounce.
Harga palladium justru menguat 0,2% menjadi US$1.380,68 per ounce.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih memberikan perhatian besar terhadap pasar logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter global.
(VVR*)









