Jakarta, iNBrita.com — Amerika Serikat meluncurkan operasi di Selat Hormuz yang mereka sebut “Project Freedom”. Dalam langkah ini, mereka berupaya mengamankan jalur pelayaran di kawasan Teluk agar kapal dagang dapat melintas dengan perlindungan militer.
Pada tahap awal, militer AS menyerang sejumlah kapal cepat milik Iran di Selat Hormuz menggunakan helikopter. Presiden AS saat itu, Donald Trump, kemudian mengumumkan bahwa pasukannya berhasil menghancurkan beberapa kapal kecil tersebut.
Namun demikian, Iran langsung membantah klaim tersebut. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan itu justru mengenai kapal sipil dan menyebabkan korban jiwa.
Di sisi lain, perusahaan pelayaran Maersk melaporkan bahwa mereka mengeluarkan salah satu kapal berbendera AS dari Teluk dengan pengawalan militer tanpa insiden. Selain itu, mereka menyatakan bahwa kapal tersebut berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman.
Sementara itu, ketegangan terus meningkat. Beberapa kapal tanker dari berbagai negara mengalami serangan atau ledakan di wilayah tersebut. Akibatnya, situasi ini memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Selain itu, Iran menegaskan bahwa mereka akan menyerang setiap kekuatan asing yang memasuki wilayah tersebut tanpa izin, termasuk pasukan Amerika Serikat. Iran juga menegaskan bahwa mereka mengendalikan penuh Selat Hormuz dan mengharuskan semua pelayaran berkoordinasi dengan pihak militer mereka.
Di tengah kondisi tersebut, Amerika Serikat menyebut operasi ini sebagai langkah pengamanan internasional. Washington juga mengklaim bahwa beberapa negara meminta bantuan untuk mengamankan jalur pelayaran di kawasan itu.
Namun di sisi lain, kedua negara tetap menjalankan pembicaraan tidak langsung di tengah ketegangan yang berlangsung, sehingga situasi masih berkembang dan belum mencapai penyelesaian.
(eny)









