Jakarta, iNBrita.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah perlu menaikkan iuran BPJS Kesehatan setiap lima tahun. Menurutnya, kenaikan ini menyesuaikan inflasi sekaligus memperluas layanan kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“BPJS mengalami defisit hampir Rp 20 triliun per tahun. Jadi, pemerintah harus menyesuaikan tarif iuran setiap lima tahun karena inflasi dan layanan yang semakin luas,” kata Menkes saat mengunjungi Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
Data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar tahun antara 2014 hingga 2025 defisit terjadi karena pendapatan iuran lebih kecil dibandingkan beban JKN. Rinciannya sebagai berikut:
| Tahun | Pendapatan Iuran (Rp triliun) | Beban JKN (Rp triliun) |
|---|---|---|
| 2014 | 40,7 | 42,7 |
| 2015 | 52,8 | 57,1 |
| 2016 | 67,4 | 67,3 |
| 2017 | 74,3 | 84,4 |
| 2018 | 85,4 | 94,3 |
| 2019 | 111,8 | 108,5 |
| 2020 | 139,9 | 95,5 |
| 2021 | 143,3 | 90,3 |
| 2022 | 144 | 113,5 |
| 2023 | 151,7 | 158,9 |
| 2024 | 165,3 | 175,1 |
| 2025 | 176,3 | 190,3 |
Total 2014–2025: Pendapatan iuran mencapai Rp 1.353,9 triliun, sedangkan beban JKN sebesar Rp 1.277,9 triliun.
Menkes menegaskan bahwa pemerintah menargetkan peserta mampu menanggung kenaikan iuran. Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan pelayanan kesehatan tetap optimal dan fasilitas medis tersedia bagi seluruh peserta JKN.














