iNbrita.com — Sejumlah negara Teluk Arab memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak menyerang Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan protes besar di Teheran akibat krisis mata uang dan tekanan ekonomi.
Mereka menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan langsung mengancam Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi dunia.
Menurut Anadolu, Selat Hormuz memisahkan Iran dari negara-negara Teluk Arab seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman. Lebarnya yang hanya puluhan kilometer membuat selat ini sangat rentan terhadap gangguan militer, termasuk serangan, ranjau laut, dan blokade terbatas.
Sekitar seperlima pengapalan minyak global melewati Selat Hormuz setiap hari, termasuk ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) menuju Asia, Eropa, dan Amerika.
Dampak Potensial Perang AS–Iran
Negara-negara Teluk khawatir Iran akan memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tekanan jika terjadi serangan militer. Gangguan kecil saja sudah cukup mengguncang pasar minyak global.
Bagi negara-negara Teluk, stabilitas selat ini menjadi kepentingan ekonomi utama. Gangguan sebagian dapat mendorong harga minyak melampaui 100–150 dolar AS per barel, menekan pendapatan ekspor, mengguncang pasar keuangan, dan memicu inflasi global.
Karena itu, mereka menilai serangan terhadap Iran bukan sekadar konflik bilateral, melainkan ancaman serius bagi stabilitas energi dan ekonomi dunia.
Selain dampak ekonomi, intervensi militer AS berisiko memicu respons keras dari Iran dan sekutunya, termasuk ancaman terhadap pangkalan AS, jalur pelayaran, dan target di negara-negara kawasan.
Konflik ini berpotensi meluas dan melibatkan negara-negara Teluk serta kelompok proksi di Irak, Suriah, dan Yaman, sehingga meningkatkan risiko ketidakstabilan berkepanjangan.
Menlu Iran Klaim Situasi Terkendali
Di tengah tekanan internasional, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pemerintah telah mengendalikan situasi keamanan nasional.
Ia mengatakan gelombang protes sejak akhir Desember 2025 telah berakhir. “Empat hari terakhir semuanya tenang. Tidak ada demonstrasi dan kerusuhan,” ujarnya kepada Fox News.
Araghchi juga membantah tudingan rencana eksekusi terhadap pengunjuk rasa. Ia menegaskan pernyataan tersebut sebagai upaya pemerintah meredam kritik global dan menunjukkan bahwa situasi Iran kini stabil.
(Ven*)














