Jakarta, iNBrita.com — Perundungan di kalangan remaja kini menjadi masalah serius. Masalah ini tidak hanya muncul di sekolah atau lingkungan bermain, tetapi juga menyebar luas ke dunia digital melalui media sosial dan aplikasi pesan.
Kemajuan teknologi seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp memungkinkan perundungan terjadi kapan saja, bahkan selama 24 jam sehari. Kondisi ini membuat korban merasa terjebak dalam rasa takut dan malu yang berkepanjangan.
Banyak remaja yang mengalami perundungan merasa sendirian. Kata-kata kasar, ancaman, hingga penyebaran foto pribadi tanpa izin sering kali mengganggu kesehatan mental mereka.
Di Indonesia, survei Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari setengah siswa SMP pernah menjadi korban perundungan. Dampak yang muncul tidak ringan, mulai dari depresi, kecemasan, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Mengutip Maggie Dent, ada beberapa langkah praktis yang dapat orang tua lakukan untuk mendukung remaja yang mengalami perundungan, mulai dari membangun komunikasi hingga mencari bantuan profesional agar mereka kembali percaya diri dan bahagia.
1. Bangun komunikasi terbuka
Orang tua perlu rutin mengajak remaja berbicara tentang pengalaman mereka tanpa memaksa. Orang tua juga dapat bekerja sama dengan pihak sekolah, seperti guru atau kepala sekolah, untuk mencari solusi bersama. Saat berdiskusi, orang tua perlu tetap tenang agar masalah tidak semakin membesar. Jika perundungan sudah sangat parah, orang tua dapat mempertimbangkan pindah sekolah demi keselamatan remaja.
2. Pantau media sosial dan ajarkan keamanan digital
Orang tua perlu membantu remaja memahami risiko membagikan informasi pribadi di media sosial. Orang tua dapat membatasi waktu penggunaan gawai atau memeriksa akun bersama remaja tanpa melanggar privasi mereka.
3. Perkuat dukungan sosial
Orang tua dapat mendorong remaja bergabung dengan kegiatan positif di luar sekolah, seperti klub olahraga atau seni. Melalui lingkungan yang mendukung, remaja akan merasa tidak sendirian dan lebih percaya diri dalam menghadapi perundungan.
4. Ajarkan cara mengenali dan melaporkan perundungan
Orang tua perlu menjelaskan tanda-tanda perundungan, seperti perubahan suasana hati, menarik diri dari lingkungan sosial, atau gangguan tidur. Selain itu, orang tua harus mengajarkan cara melapor kepada guru, pihak sekolah, atau aparat berwenang jika perundungan terjadi secara daring.
5. Libatkan sekolah dalam pencegahan
Orang tua dapat mendorong sekolah untuk menerapkan aturan anti-perundungan melalui kampanye kesadaran atau pelatihan bagi siswa. Jika terjadi perundungan, sekolah harus menindak pelaku secara adil melalui sanksi atau mediasi agar lingkungan sekolah tetap aman.
6. Dorong aktivitas positif
Orang tua dapat mengajak remaja menekuni hobi yang mereka sukai, seperti olahraga, membaca, atau seni. Aktivitas ini membantu remaja merasa lebih berharga dan kuat, sehingga perkataan negatif tidak mudah memengaruhi kepercayaan diri mereka.
7. Cari bantuan profesional
Jika perundungan menimbulkan gangguan kesehatan mental serius, seperti pikiran untuk menyakiti diri sendiri, orang tua harus segera mencari bantuan profesional. Remaja dapat mengakses psikolog, layanan darurat, atau layanan kesehatan mental gratis dari Kementerian Kesehatan dan aplikasi kesehatan jiwa di Indonesia. (Tim*)










