Hantavirus Mengintai, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Hantavirus Mengintai, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hantavirus (Foto: Gavi)

Hantavirus (Foto: Gavi)

Hantavirus di Indonesia: Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

Jakarta , iNBrita.com – Belakangan ini, Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah laporan kasus kematian muncul di kapal pesiar internasional. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menilai risiko penyebaran global masih tergolong rendah. Namun, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus tersebut.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi di sembilan provinsi di Indonesia. Seluruh kasus yang muncul merupakan tipe HFRS atau Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome yang menyerang ginjal.

Hantavirus sendiri bukan penyakit baru. Virus ini biasanya menular ketika seseorang melakukan kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi. Selain itu, manusia juga bisa tertular melalui urine, kotoran, maupun debu yang mengandung partikel virus dan terhirup ke saluran pernapasan.

Secara global, Hantavirus terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama, HFRS yang banyak menyerang masyarakat di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Kedua, HPS atau Hantavirus Pulmonary Syndrome yang menyerang sistem pernapasan dan lebih banyak muncul di kawasan Amerika.

Baca Juga :  Makanan Pemicu Asam Urat yang Harus Dihindari

Selanjutnya, sejak 2015 hingga 2026, sejumlah negara melaporkan kasus Hantavirus, seperti Finlandia, Jerman, Swedia, Chili, Argentina, Panama, Korea Selatan, China, hingga Taiwan. Karena itu, banyak negara terus memperketat pengawasan terhadap penyebaran virus tersebut.

Di sisi lain, WHO tetap menilai risiko penyebaran Hantavirus secara global masih rendah, termasuk di lingkungan kapal pesiar. Oleh sebab itu, WHO belum memberlakukan pembatasan perjalanan maupun perdagangan internasional.

Risiko Penyebaran di Indonesia

Khusus di Indonesia, pemerintah belum menemukan kasus HPS. Sebaliknya, seluruh laporan yang muncul berasal dari tipe HFRS. Bahkan, Kemenkes menjelaskan sebagian besar kasus kematian terjadi karena infeksi penyerta, bukan semata-mata akibat Hantavirus.

Meski begitu, pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan masuknya kasus HPS dari luar negeri. Sementara itu, potensi penambahan kasus di dalam negeri lebih besar berasal dari tipe HFRS.

Untuk mencegah penularan, masyarakat perlu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS. Misalnya, masyarakat perlu rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk dan bersin, serta membersihkan rumah menggunakan kain pel basah agar debu tidak beterbangan.

Baca Juga :  Wako Alfin Pacu Persiapan Operasional TPST Renah Kayu

Selain itu, masyarakat juga perlu menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat. Kemudian, warga harus menutup celah rumah yang memungkinkan tikus masuk agar hewan pembawa virus tidak berkeliaran di dalam rumah.

Tak hanya itu, masyarakat harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah beraktivitas di area berisiko tinggi.

Gejala HFRS meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri badan, tubuh lemas, hingga kulit menguning atau jaundice. Sementara itu, penderita HPS biasanya mengalami demam, nyeri badan, batuk, dan sesak napas.

Sebagai informasi, virus HFRS biasanya memunculkan gejala setelah masa inkubasi satu hingga dua minggu sejak paparan. Sedangkan virus HPS dapat memunculkan gejala dalam waktu satu hingga delapan minggu.

Terakhir, tenaga kesehatan mengimbau masyarakat untuk menyampaikan riwayat perjalanan maupun paparan lingkungan berisiko saat menjalani pemeriksaan medis agar petugas dapat memberikan penanganan lebih cepat dan tepat.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Budi Gunadi Pastikan Tarif BPJS Kesehatan Tidak Naik
Tanda Kekurangan Kalsium yang Sering Tidak Disadari
Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Payudara pada Perempuan
Minum Kopi Rutin Turunkan Risiko Penyakit Hati Kronis
5 Minuman Malam Hari Bantu Tidur Nyenyak Tanpa Obat
Bayi Berkeringat Saat Menyusu Waspadai Gangguan Jantung
Kenali 5 Gejala Awal Penyakit Ginjal Sebelum Terlambat
Dokter Harvard Peringatkan Bahaya 6 Makanan Pemicu Kanker
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 20:00 WIB

Budi Gunadi Pastikan Tarif BPJS Kesehatan Tidak Naik

Kamis, 30 Juli 2026 - 23:00 WIB

Tanda Kekurangan Kalsium yang Sering Tidak Disadari

Rabu, 22 Juli 2026 - 03:00 WIB

Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Payudara pada Perempuan

Jumat, 17 Juli 2026 - 10:00 WIB

Minum Kopi Rutin Turunkan Risiko Penyakit Hati Kronis

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:00 WIB

5 Minuman Malam Hari Bantu Tidur Nyenyak Tanpa Obat

Berita Terbaru

Wako Alfin saat mengikuti penanaman bawang putih serentak di Kayu Aro.

SUNGAI PENUH

Wako Alfin Dukung Swasembada Bawang Putih Nasional

Rabu, 19 Agu 2026 - 18:00 WIB

Wawako Azhar Hamzah menerima penghargaan IRH 2026.

SUNGAI PENUH

Pemkot Sungai Penuh Raih Predikat Istimewa IRH 2026

Rabu, 19 Agu 2026 - 15:00 WIB

Ketua DPRD Kota Sungai Penuh Hutri Randa menyampaikan ucapan selamat kepada H. Nuzran Joher atas terpilihnya sebagai Ketua Ombudsman RI periode 2026–2031.

SUNGAI PENUH

DPRD Sungai Penuh Ucapkan Selamat kepada Nuzran Joher

Rabu, 19 Agu 2026 - 12:00 WIB

Ilustrasi guru PPPK yang menjalankan tugas dan mengabdi untuk pendidikan Indonesia.(Foto : Ilustrasi AI)

Nasional

Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Ini Aturan Terbarunya

Rabu, 19 Agu 2026 - 09:00 WIB

Hutri Randa menghadiri resepsi HUT ke-81 RI, Senin (17/08).

SUNGAI PENUH

Hutri Randa Hadiri Resepsi Kenegaraan HUT ke-81 RI

Selasa, 18 Agu 2026 - 14:00 WIB