Jakarta, iNBrita.com — Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Capaian ini menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi sejak 2013. Peningkatan tersebut muncul karena pemerintah mempercepat belanja negara dan masyarakat meningkatkan konsumsi selama Ramadan serta Idul Fitri.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data itu pada Selasa, 5 Mei 2026. Dalam laporan tersebut, BPS mencatat nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun. Selain itu, angka pertumbuhan tersebut melampaui capaian kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen dan kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pertumbuhan ekonomi nasional masih berada dalam kondisi kuat. Namun, ia mengingatkan adanya perbedaan basis perbandingan antara pertumbuhan tahunan dan kontraksi kuartalan.
“Pertumbuhan tahunan membandingkan kuartal I 2026 dengan kuartal I 2025 yang basisnya relatif rendah, sehingga angka tahunannya terlihat kuat. Sedangkan kontraksi kuartalan membandingkan dengan kuartal IV 2025 yang biasanya memang tinggi karena belanja akhir tahun dan realisasi proyek,” ujar Josua pada Jumat, 8 Mei 2026.
Pada saat yang sama, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan. Meski begitu, masyarakat tetap menjaga konsumsi rumah tangga hingga tumbuh 5,52 persen. Di sisi lain, pemerintah meningkatkan konsumsi hingga 21,81 persen seiring percepatan realisasi anggaran pada awal tahun.
Investasi Infrastruktur dan Program MBG Meningkat
Selain itu, pelaku usaha juga meningkatkan investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,96 persen. Pemerintah mendorong kenaikan tersebut lewat pembangunan infrastruktur logistik dan fasilitas penunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Josua, program MBG memicu pembangunan dapur umum, gudang, fasilitas distribusi, bangunan pendukung, hingga jaringan logistik di berbagai daerah. Karena itu, aktivitas investasi bangunan ikut meningkat sepanjang awal 2026.
“Program tersebut membutuhkan dapur, gudang, fasilitas distribusi, bangunan pendukung, peralatan, dan jaringan logistik,” kata Josua.
Sektor Manufaktur Mulai Mengalami Tekanan
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, sektor manufaktur mulai menghadapi tekanan. Indeks PMI manufaktur Indonesia pada April 2026 turun ke level 49,1. Penurunan itu menandakan aktivitas industri mulai melemah.
Lebih lanjut, Josua menjelaskan kenaikan biaya bahan baku menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, konflik di kawasan Timur Tengah turut meningkatkan ketidakpastian global dan menekan biaya produksi industri.
Tantangan Lapangan Kerja Masih Besar
Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 turun menjadi 4,68 persen. Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang.
Meski demikian, Josua menilai pasar tenaga kerja nasional masih menghadapi tantangan besar. Pasalnya, proporsi pekerja formal turun menjadi 40,58 persen, sedangkan sektor informal masih mendominasi lapangan pekerjaan.
“Masalah tenaga kerja saat ini bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, stabil, dan memberi pendapatan layak,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 hampir menyamai capaian kuartal I 2013 yang saat itu mencapai 6,03 persen berdasarkan catatan historis BPS.
(eny)









