Kampala, iNBrita.com — Komisi Pemilihan Umum Uganda menetapkan Presiden Yoweri Museveni sebagai pemenang pemilihan presiden 2026. Museveni meraih 71,65 persen suara dalam pemilu yang berlangsung Kamis (15/1/2026) dan mengamankan masa jabatan ketujuh sejak berkuasa pada 1986.
Pengumuman hasil tersebut memicu reaksi luas. Sejumlah pengamat pemilu Afrika menilai aparat keamanan menekan oposisi menjelang pemungutan suara. Mereka mencatat praktik penangkapan, intimidasi, serta dugaan penculikan terhadap aktivis dan masyarakat sipil. Laporan setempat menyebut sedikitnya 10 orang meninggal selama rangkaian pemilu.
Bobi Wine Menolak Kemenangan Museveni
Museveni mengungguli Bobi Wine, kandidat utama oposisi, yang meraih 24,72 persen suara. Wine, mantan penyanyi bernama asli Robert Kyagulanyi, menolak hasil pemilu dan menyebutnya tidak sah.
Ia menyatakan aparat keamanan terus memburunya sehingga ia memilih bersembunyi demi keselamatan. Wine juga menuding pemerintah menekan pendukung dan pejabat partainya selama pemadaman internet nasional yang berlangsung beberapa hari.
“Saya tahu mereka mencari saya di mana-mana. Saya berusaha tetap aman,” tulis Wine melalui media sosial X.
Polisi Perketat Keamanan Ibu Kota
Kepolisian Uganda membantah tuduhan penggerebekan rumah Bobi Wine. Namun, polisi mengakui telah menempatkan pasukan di sekitar kediamannya.
Menurut kepolisian, aparat mengambil langkah tersebut untuk mencegah rumah Wine digunakan sebagai lokasi berkumpul yang berpotensi memicu kekerasan. Pemerintah juga memperketat pengamanan di Kampala untuk mengantisipasi aksi protes besar.
Pendukung Presiden Rayakan Kemenangan
Di tengah kritik internasional, sebagian warga Uganda tetap mendukung Museveni. Mereka menilai presiden berusia 81 tahun itu berhasil mengakhiri kekacauan pascakemerdekaan dan menjaga stabilitas nasional.
“Saya senang melihat dia menang karena kerja keras dan komitmennya kepada rakyat Uganda,” ujar Isaac Kamba, seorang guru berusia 37 tahun, saat menghadiri aksi dukungan terhadap pemerintah di Kampala.
Sebaliknya, Partai National Unity Platform pimpinan Wine menolak hasil pemilu dan menuding pemerintah melakukan kecurangan penghitungan suara, terutama selama pemadaman internet yang baru pulih pada Sabtu (17/1) malam.
Pengamat Soroti Tekanan Politik
Pengamat pemilu Afrika menyatakan mereka tidak menemukan bukti langsung manipulasi penghitungan suara. Namun, mereka mengecam tindakan intimidasi, penangkapan, dan penculikan yang menyasar oposisi serta masyarakat sipil.
Partai Gerakan Perlawanan Nasional pimpinan Museveni juga mempertahankan dominasi di parlemen. Dengan kendali kuat atas institusi negara dan aparat keamanan, Museveni terus mengukuhkan pengaruh politiknya.
Tekanan terhadap oposisi telah berlangsung lama. Pada 2024, aparat menculik Kizza Besigye, rival lama Museveni, di Kenya dan membawanya ke Uganda untuk menjalani proses hukum atas tuduhan pengkhianatan.
Perjalanan Panjang Kekuasaan Museveni
Yoweri Kaguta Museveni lahir pada 1944 dan mulai menjabat Presiden Uganda pada 29 Januari 1986. Ia merebut kekuasaan setelah memimpin perang gerilya selama lima tahun melawan rezim sebelumnya.
Museveni menempuh pendidikan ekonomi dan ilmu politik di Universitas Dar es Salaam serta aktif dalam perlawanan terhadap rezim Idi Amin pada dekade 1970-an.
Pada awal pemerintahannya, ia mendorong pertumbuhan ekonomi stabil, memperluas pendidikan dasar, dan menurunkan angka HIV/AIDS melalui kampanye nasional. Namun dalam dua dekade terakhir, kritik meningkat karena ia dinilai membatasi perbedaan pendapat dan enggan melepaskan kekuasaan.
Dengan kemenangan terbarunya, Museveni berpeluang memimpin Uganda hampir empat dekade dan mengukuhkan posisinya sebagai salah satu presiden terlama di Afrika.
(vvr)














